Perusahaan Indonesia Belum Siap Bangun Keahlian Baru Hadapi Automasi Dunia Kerja

Kurang dari 1% perusahaan di Indonesia yang sudah mengambil langkah nyata atau benar-benar siap dalam mengidentifikasi proses reskilling atau membangun keahlian baru, khususnya untuk tugas yang tergantikan automasi.
Annisa Margrit | 09 Mei 2018 10:49 WIB
Managing Director Talent and Rewards Willis Towers Watson Asia Pacific Maggy Fang (kedua kanan) menyampaikan hasil The Global Future of Work Survey 2018 di Jakarta, Selasa (8/5). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Peningkatan automasi di berbagai sektor bisnis sudah mulai terjadi, tapi ternyata masih sangat sedikit perusahaan di Indonesia yang benar-benar siap menjalankannya.

Menurut The Global Future of Work Survey 2018 yang diterbitkan Willis Tower Watson, perusahaan di Indonesia memperkirakan automasi bakal naik menjadi sekitar 21% dari seluruh jenis pekerjaan dalam tiga tahun mendatang.

Dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Rabu (9/5/2018), peningkatan itu disebut jauh lebih besar dibandingkan kondisi saat ini yang hanya 11% dan 7% pada tiga tahun lalu.

Namun, hanya kurang dari 1% perusahaan di Indonesia yang sudah mengambil langkah nyata atau benar-benar siap dalam mengidentifikasi proses reskilling atau membangun keahlian baru, khususnya untuk tugas yang tergantikan automasi.

Meski banyak perusahaan yang sudah mengambil langkah untuk mempersiapkan perubahan, tapi masih ada ketidakpastian mengenai siapa yang akan memimpin, mendorong perubahan internal, atau apakah divisi Sumber Daya Manusia (SDM) perlu memperluas kemampuan dalam mendorong praktik talent management di lanskap bisnis baru ini.

Data lain yang diperoleh adalah 54% perusahaan sudah merencanakan langkah-langkah khusus untuk mengatasi keterbatasan keahlian, termasuk lingkungan kerja baru dan pengaturan karier yang lebih fleksibel dengan struktur yang lebih ramping, serta melakukan asesmen untuk mengidentifikasi jurang antara keterampilan dan keinginan karyawan.

Willis Tower Watson menilai penting bagi pemimpin dan manajer untuk mengembangkan pola komunikasi yang lebih personal dengan seluruh karyawan, menginisiasi perubahan tentang sejauh mana manusia dan teknologi akan bekerja beriringan, sekaligus mengartikulasi peta jalan untuk mengurangi kekhawatiran akan tergantinya tenaga kerja manusia.

"Ada kesadaran tinggi dari pemimpin bisnis regional bahwa mereka perlu mengembangkan pemimpin dan manajer yang mampu mengatur ekosistem kerja yang benar-benar berbeda. Hal ini mencakup kebutuhan untuk menanamkan, sekaligus menggerakkan budaya kerja yang memprioritaskan pada employe engagement--baik untuk karyawan tetap maupun tidak," papar Managing Director Talent and Rewards Willis Towers Watson Asia Pacific Maggy Fang.

Adapun Willis Tower Watson adalah perusahaan konsultasi global, sekaligus perusahaan pialang dan penyedia solusi. Survei tersebut dilakukan pada November 2017 dan melibatkan 909 perusahaan di seluruh dunia, termasuk 507 dari Asia Pasifik.

Tag : pekerjaan, kecerdasan buatan (AI)
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top