Ramadan Makin Dekat, Harga Beras Masih Tinggi

Sepekan jelang Ramadan, rerata harga beras medium di pasaran masih belum menyentuh batasan harga eceran tertinggi (HET). Padahal, musim panen raya telah lewat dan upaya operasi pasar telah dilakukan sejak awal tahun.
Rayful Mudassir | 07 Mei 2018 11:11 WIB
Pekerja mengisi beras kedalam karung di Gudang Bulog Divisi Regional Riau - Kepulauan Riau di Pekanbaru, Riau, Rabu (18/4/2018). - ANTARA/Rony Muharrman

Bisnis.com, JAKARTA—Sepekan jelang Ramadan, rerata harga beras medium di pasaran masih belum menyentuh batasan harga eceran tertinggi (HET). Padahal, musim panen raya telah lewat dan upaya operasi pasar telah dilakukan sejak awal tahun.

Kondisi ini membuktikan upaya pemerintah dalam melakukan stabilisasi harga pangan—termasuk membuka keran impor beras dari Pakistan, India, Vietnam, dan Thailand sejumlah 500.000 ton—belum berdampak signifikan pada penurunan harga beras.

Merujuk data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga jual beras medium di pasaran Jawa per 4 Mei 2018 masih Rp11.900/kg, alias di atas HET senilai Rp9.450/kg sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.57/2017.

Padahal, pemerintah melalui Perum Badan Urusan Logistik/Bulog (Persero) telah menggelontorkan beras impor dalam berbagai kemasan mulai 5 kg, 10 kg, 20 kg, dan 25 kg sejak 16 April.

Ketua Umum DPP Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perppadi) Sutarto Alimoeso menjelaskan ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab harga beras medium hingga kini masih belum menyentuh HET, sebagaimana ditargetkan Kemendag.

Pertama, terjadi kenaikan permintaan beras premium menjelang Ramadan, sehingga pengusaha lebih memilih untuk memproduksi varian tersebut. Beras premium diproduksi dengan tingkat pecahan maksimal 15%, sedangkan medium maksimal 20%.

“Selisih harga yang cukup jauh membuat pengusaha memilih memproduksi beras premium saat terjadi kenaikan permintaan. HET untuk beras premium adalah Rp12.800/kg,” ujar kepada Bisnis, Minggu (6/5/2018).

Kedua, saat ini stok beras di tingkat penggilingan cenderung lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Jika tahun lalu stok di penggilingan tersedian untuk 3-4 bulan pascaramadan, tidak demikian halnya untuk tahun ini.

“Harga sangat ditentukan oleh stok beras. Kalau stok berlimpah, harga tidak akan naik dan tidak akan ada spekulan yang berani menaikkan harga,” kata Mantan Dirut Bulog era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Untuk mengatasi masalah tingginya harga beras, dia mengimbau Bulog agar memangkas rantai distribusi mulai dari penggilingan kecil, penggilingan besar, subdistributor, distributor, hingga ke pasar.

HARGA GABAH

Faktor lain yang memicu tingginya harga beras jelang Ramadan adalah harga produksi di tingkat petani yang sudah menembus Rp3.980/kg. Angka ini lebih tinggi dibandingkan ketetapan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) senilai Rp3.700/kg.

Direktur Statistik Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Badan Pusat Statistik (BPS) Hermanto berpendapat data itu seharusnya menjadi sinyal bagi pemerintah untuk segera mengkaji kembali ketetapan HPP GKP.

Dihubungi terpisah, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa Memaparkan meski harga di pasaran di atas HET, beras sebenarnya masih dalam posisi aman. Namun, dia tidak menampik kemungkinan terjadinya kenaikan harga lebih lanjut.

“Mei ini kemungkinan [beras medium] akan berada pada harga rendah. Namun, Juni nanti kemungkinan harga beras naik. Itupun tidak terlalu tinggi, jadi [pemerintah] tidak perlu [khawatir] berlebihan,” tuturnya.

Merespons kondisi tersebut, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengaku akan terus memantau pergerakan harga beras di pasaran. “Kami terus melakukan pemantauan harga dan stok jelang Ramadan,” tegasnya saat dihubungi Bisnis.

Menurut data Bulog per 3 Mei, BUMN itu sudah memasok beras impor sebanyak 408.053 ton. Sementara itu, operasi pasar dengan menggunakan cadangan beras pemerintah (CBP) sejak awal tahun hingga saat ini telah tercatat sebesar 296.282 ton.

Adapun, realisasi pengadaan beras saat ini berada di posisi 627.602 ton. Jadi, jika dijumlahkan, stok beras Bulog yang berasal dari serapan lokal dan impor saat ini mencapai 1.035.655 ton.

Sekretaris Bulog Siti Kuwaiti mengatakan perusahaan pelat merah itu akan bekerja sama dengan aparat TNI dan Polri untuk penyaluran beras, guna menghindari pelaku penimbunan beras yang dapat menyebabkan kelangkaan stok dan kenaikan harga.

Sementara itu,  Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi memastikan stok beras jelang Ramadan di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) akan dijaga diatas 30.000 ton. Saat ini, stok beras di PIBC mencapai 39.682 ton. 

Meskipun sebagian besar stok tersebut diperuntukkan bagi pedagang wilayah DKI Jakarta, selama ini PIBC juga menjadi salah satu penyokong stok beras nasional untuk sejumlah daerah seperti Bogor, Tangarang, Bekasi, Banten, Bandung, Jawa Tengah dan antar pulau lainnya.

Pihaknya memastikan beras untuk Jakarta tetap aman sampai Ramadan dan Idulfitri. Apalagi, warga Ibu Kota pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) akan mendapatkan beras kualitas premium seharga Rp6.000/kg atau mendapat jatah lima kilogram dalam satu bulan.

“Pemerintah dapat mengusahakan sebaik mungkin supaya harga tidak naik terlalu tinggi dengan mekanisme inventory control,” katanya kepada Bisnis.

Sekadar catatan, menjaga stok dan harga beras jelang Ramadan merupakan salah satu prioritas utama pemerintah saat ini. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan pihaknya akan terus memantau komoditas paling sensitif di Indonesia itu.

Selain itu, otoritas perdagangan menggandeng Satgas Pangan guna memonitor perkembangan stok dan harga bahan pangan paling pokok tersebut secara periodik. “Hal ini akan dilakukan terus, bukan hanya jelang Ramadan dan Idulfitri, tetapi hingga akhir tahun,” ucapnya.

Tidak hanya pedagang di pasar rakyat yang diwajibkan menjual harga beras sesuai HET mulai 13 April 2018, ritel modern juga diharuskan menyediakan beras premium yang dijual sesuai dengan ketentuan Permendag No.57/2017.

“Pelaku usaha diminta menyalurkan beras medium ke pasar-pasar rakyat, dan pemerintah daerah diminta berkoordinasi dengan Bulog untuk memasok beras Bulog ke pasar rakyat,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kasan.

Tag : Harga Beras
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top