Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Farmasi di RI Terbesar, tapi Health Spendingnya di Bawah Rerata Asean

Pasar industri farmasi di Indonesia mencapai Rp82 triliun atau 40% dari pasar Asean, namun health spending (belanja kesehatan) di Indonesia baru mencapai 27% atau di bawah rerata Asean.
Salsabila Annisa Azmi
Salsabila Annisa Azmi - Bisnis.com 07 Mei 2018  |  11:50 WIB
Pasar Farmasi di RI Terbesar, tapi Health Spendingnya di Bawah Rerata Asean
Presiden Joko Widodo (kiri) mendengarkan penjelasan Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius ketika meninjau fasilitas produksi di sela-sela peresmian pabrik PT Kalbio Global Medika, di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/2/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A
Bagikan

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Pasar industri farmasi di Indonesia mencapai Rp82 triliun atau 40% dari pasar Asean, namun health spending (belanja kesehatan) di Indonesia baru mencapai 27% atau di bawah rerata Asean.

Direktur Business Development PT Kalbe Farma Sie Djohan mengatakan Indonesia memiliki lebih dari 206 industri farmasi. Di Asean, industri farmasi yang paling maju adalah indonesia.

"Singapura besar tapi perusahaannya asing semua. Perusahaan nasional tidak ada yang kuat. Kita ada perusahaan nasional kuat tapi bahan baku kita 95% masih impor," katanya dalam diskusi Strategi Hilirisasi Hasil Penelitian untuk Meningkatkan Kesehatan Masyarakat di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta hari ini, Senin (7/5/2018).

Berdasarkan data, katanya, pasar industri farmasi Indonesia mencapai  Rp82 triliun. Indonesia menyumbang 40% penduduk ASEAN, namun health spending hanya 27% dan masih di bawah rata-rata negara ASEAN.

Namun demikian, Djohan mengingatkan  potensi pengembangan industri farmasi di Indonesia besar sekali. Tinggal bagaimana Indonesia bersama-sama mengisi potensi tersebut.

"Saya pernah membuat kalkulasi. Seandainya health spending kita meningkat jadi 5% dalam 10 tahun ke depan. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5-6%. Itu potensinya besar sekali," kata Djohan.

Dia yakin jika penelitian Indonesia juga membaik dan mencapai standar internasional, maka potensi ekspor Indonesia juga cukup besar. Namun itu tidak akan terjadi begitu saja.

Djohan mengingatkan  ke depan akan terjadi perubahan tren bisnis farmasi. Apabila industri farmasi hanya fokus pada pengembangan obat dan bahan baku atau chemical maka Indonesia akan ketinggalan dengan negara lain. "Kita juga harus mengembangkan diagnostiknya," katanya.

Dia menambahkan Indonesia selalu membuat produk blockbuster di mana satu obat untuk satu jenis penderita penyakit.

Ke depan, tren yang diprediksi adalah pengembangan pengobatan yang presisi.  Artinya, pengembangan lebih kepada diagnostik yang menentukan treatment berbeda-beda untuk level penyakit tertentu.

"Cek dulu apakah Anda sesuai menggunakan obat itu. Lebih ke seleksi pasien. Diagnostik, menyeleksi grup-grup pasien tertentu," kata Djohan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kalbe farma
Editor : Sutarno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top