Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertemuan Delegasi Perdagangan AS-China Diklaim Berjalan Mulus

Delegasi perdagangan Amerika Serikat mengungkapkan pertemuan pertama dengan China pada Kamis (3/5/2018) berjalan lancar.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 04 Mei 2018  |  13:59 WIB
Pertemuan Delegasi Perdagangan AS-China Diklaim Berjalan Mulus
Bendera AS dan China - newline

Bisnis.com,  JAKARTA – Delegasi perdagangan Amerika Serikat mengungkapkan pertemuan pertama dengan China pada Kamis (3/5/2018) berjalan lancar.

Sebuah terobosan kesepakatan untuk mengubah kebijakan fundamental China pun dipandang sangat tidak mungkin dalam pertemuan dua hari tersebut. Namun, pertimbangan jangka pendek dari Negeri Panda dipercaya dapat menunda keputusan AS untuk mengenakan tarif sebesar US$50 miliar terhadap produk impor asal China.

“Kami memiliki perbincangan yang sangat baik,” ujar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, seperti dikutip Reuters, Jumat (4/5/2018).

Mnuchin tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai perbicangan yang sangat baik itu. Adapun Mnuchin dan Wakil Perdana Menteri China Liu He diharapkan dapat menyelesaikan masalah keluhan Negeri Paman Sam terhadap praktik perdagangan China, mulai dari pemaksaan transfer teknologi AS hingga subsidi yang diberikan Negeri Panda untuk pengembangan sektor teknologinya.

Sebelumnya, China telah mengancam akan membalas setiap tarif yang dikenakan AS dengan pengukuran yang sama. Namun, sejauh ini pihak China belum memberikan pernyataan terkait perundingan dengan AS tersebut.

Pejabat resmi surat kabar harian China menyampaikan di dalam tajuknya, peningkatan tensi di antara kedua negara memperlihatkan betapa ‘mengesalkannya’ perbedaan yang terjadi dan “betapa sulit hal ini bagi kedua belah pihak untuk berpisah dengan hati yang lapang”.

Tajuk harian itu menambahkan, seluruh dunia harus menyilangkan jari, yang berarti pengharapan, untuk tercapainya kesepakatan di antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut. Pasalnya, kegagalan dapat memicu pemberitaan yang lebih luas terkait tarif impor dan dapat mengguncang perdagangan global.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memuji hubungannya dengan Presiden China Xi Jinping ketika delegasinya memulai pembicaraan di Beijing pada Kamis (3/5/2018). Pertemuan itu diselenggarakan di rumah tamu kenegaraan di bagian selatan ibukota China.

Kedatangan delegasi perdagangan AS tersebut mengindikasikan bahwa AS “telah mengambil langkah untuk menghindari perang dagang,” tulis surat kabar Global Times di kolom komentar.

“Sejak kedua belah pihak memiliki batas kesabaran masing-masing, perbicangan ini mungkin sulit mencapai kesepakatan. Tapi hal ini juga baik untuk memulai sesuatu,” tulis Global Times.

Adapun pakar perdagangan di AS menyampaikan, mereka ingin supaya Beijing menawarkan sebuah paket perubahan kebijakan kepada delegasi Trump, yang terdiri dari melonggarkan persyaratan untuk usaha patungan di beberapa sektor, menurunkan tarif otomotif, dan meningkatkan pembelian produk-produk AS.

Namun, James McGregor, Kepala perusahaan humas APCO  Worldwide di kawasan China pun menyampaikan ada kemungkinan besar bahwa pembicaraan ini tidak akan mencegah pengenaan tarif. Sebaliknya, sisi AS bakal meyakinkan China bahwa Negeri Paman Sam secara fundamental telah mengubah arah hubungan dagang mereka.

“Saya pikir tidak banyak ilusi Amerika yang dapat mengubah China. Intinya adalah bagaimana kita [AS] dapat mengatur ulang strategi menghadapi China untuk melindungi AS, inovasi AS, dan perusahaan AS," ujar McGregor.

Hal itu senada dengan yang disampaikan oleh Kepala Perwakilan Perdagangan AS (USTR) Robert Lighthizer pada awal pekan ini, bahwa dia tidak memiliki tujuan untuk mengubah sistem ekonomi China. Lighthizer menekankan, dia hanya ingin mencari jalan untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkan China dengan memanfaatkan perusahaan dan keterbukaan pasar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top