Masalah Pipa Pertamina di Balikpapan Dipastikan Tak Hambat Pasokan BBM

Komisi VII memastikan operasional kilang pengolahan migas Refinery Unit (RU) V Balikpapan berangsur pulih meski belum sepenuhnya pasca insiden pipa Pertamina patah di perairan Teluk Balikpapan, 31 Maret lalu.
Fariz Fadilah | 28 April 2018 11:29 WIB
Pertamina mengangkat pipa yang putus di Teluk Balikpapan sepanjang 7 meter. Pertamina diminta mengangkat pipa sepanjang 54 meter yang putus menjadi tiga bagian. - Dok. Humas Polda Kaltim.

Bisnis.com, BALIKPAPAN -- Komisi VII memastikan operasional kilang pengolahan migas Refinery Unit (RU) V Balikpapan berangsur pulih meski belum sepenuhnya pasca insiden pipa Pertamina patah di perairan Teluk Balikpapan, 31 Maret lalu.

Komisi bidang energi sumber daya mineral, riset dan teknologi, dan lingkungan hidup itu melakukan kunjungan kerja ke Balikpapan, 27 April, kemarin. Kunker juga memastikan pasokan BBM untuk Indonesia Tengah dan Indonesia Timur aman menjelang Ramadan dan Idulfitri.

"Kita ingin memastikan kilang Balikpapan ini bagaimana beroperasinya apakah pasca musibah beberapa waktu lalu kilang terhambat tidak maksimal. Dan alhamdulilah kilang Balikpapan sudah beroperasi dengan baik walaupun operasinya masih belum 100%,” ungkap Wakil Ketua Komisi Eni Maulani Saragih.

Soal ini, Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengalihan pipa dengan jumper ke pipa lain yang juga berada di bawah perairan Teluk Balikpapan untuk mengirim minyak dari Terminal Lawe-Lawe di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) ke kilang Balikpapan. “Ini untuk menjaga produksi kilang,” jelasnya.

Soal pipa putus, kata Budi, pemasangan pipa sudah dapat dilakukan, dan pipa baru yang akan dipasang sudah siap dioperasikan. "Kami juga meningkatkan operasional kilang-kilang Pertamina yang lain untuk menggantikan produksi kilang Balikpapan yang belum 100%." jelasnya di Balikpapan.

Guna mengantisipasi kejadian serupa terulang, Budi memastikan pada pipa yang baru, leak detection system untuk mendeteksi kebocoran pipa juga dipasang.

Sebelumnya dalam jumpa pers 4 April lalu, Pertamina mengaku terdapat penurunan total produksi mencapai 50% pada primary process, sementara untuk secondary process dipastikan aman. Kapasitas normal kilang tersebut mencapai 260 barel per hari.

Satu sisi, ada empat pembahasan dalam kunker di Balikpapan, 27 April kemarin. Di antaranya, mengenai zonasi ceceran minyak Teluk Balikpapan, penanganan aspek lingkungan, sosial dan operasional .

Dari aspek lingkungan, perseroan melakukan pembersihan di pesisir Teluk Balikapapan. Dijelaskan Budi, sebagian besar sudah bersih hanya beberapa wilayah hutan mangrove yang dihentikan seiring imbauan Kementerian Lingkungan Hidup.

Soal zonasi ceceran minyak, memakai data Pertamina yang diperoleh Bisnis, terdapat empat zona dengan total 14 kelurahan di Balikpapan, dan 20 kelurahan di PPU.

Tiga dari empat zona disebutkan sudah mencapai 100 persen bersih, meliputi wilayah pesisir maupun pemukiman penduduk. Hanya pada zona 1 progres pembersihan masih ada yang mencapai mencapai 64 persen.

Soal aspek masyarakat, Pertamina melaporkan bahwa bantuan untuk masyarakat terdampak sudah diberikan dalam berbagai bentuk seperti santunan, bantuan alat-alat untuk nelayan.

Rinciannya, ganti rugi 2 kapal nelayan yang terbakar, 5 korban jiwa, penggantian 25 buah jaring ikan, 1.057 bubu, 15 rengge, 67 kapal nelayan yang berlabuh terkena minyak (tidak melaut selama tiga hari), 320 nelayan yang tidak melaut, 20 kotak keramba rusak, 1.770 meter belet tancap, 4 jala, 8 sodok, dan 800 kilogram.

Sementara sampai sejauh ini Pertamina disebutkan belum penyaluran ke nelayan yang tidak melaut di PPU, menunggu pendataan dari tim verifikasi.

Tag : pertamina, balikpapan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top