Ekspor Produk Kriya Sentuh US$776 Juta Sepanjang 2017

Ekspor produk kriya menyentuh US$776 juta sepanjang 2017 atau lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2016 yakni US$747 juta.
Duwi Setiya Ariyanti | 28 April 2018 14:51 WIB
Suasana stan Mitra Binaan BNI seusai pembukaan Jakarta International Handcraft Fair (Inacraft) 2018 di Jakarta, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA--Ekspor produk kriya menyentuh US$776 juta sepanjang 2017 atau lebih tinggi dibandingkan pencapaian tahun 2016 yakni US$747 juta.

Dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Sabtu (28/4/2018), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan industri kerajinan merupakan salah satu industri prioritas karena kemampuannya menghasilkan produk berdaya saing.

Industri kerajinan pun memiliki potensi karena ketersediaan sumber bahan baku alami yang didukung keragaman corak serta keahlian.

"Dalam pengembangan industri nasional, industri kerajinan merupakan salah satu industri prioritas yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global,” ujarnya saat menghadiri acara Inacraft 2018.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong kinerja industri kriya Tanah Air melalui program peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), adopsi teknologi untuk menciptakan inovasi. Sebagai contoh, melalui pusat inovasi di Bali Creative Industry Center (BCIC).

Program tersebut, tutur Airlangga, diperlukan mengingat posisi industri kriya Tanah Air menjadi bagian rantai pasok global. Melalui program itu Airlangga juga berharap agar partisipasi generasi muda meningkat dan memiliki pengetahuan terhadap masalah-masalah global terkait teknologi yang efektif, efisien dan ramah lingkungan.

“Untuk itu pelaku industri kreatif bidang kerajinan semakin dituntut untuk tidak hanya mampu bersaing secara sehat di pasar negeri sendiri serta unggul dari barang impor, namun juga diharapkan dapat memenuhi pasar mancanegara,” katanya.

Sejalan dengan tujuan itu, pihaknya pun mengapresiasi gelaran Inacraft yang mampu menarik pembeli dari luar negeri karena menjadi ruang untuk pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor kerjainan mempromosikan produk.

Dengan 1.700 pelaku usaha yang berpartisipasi, dalam tiga hari, acara tersebut mampu menarik 75.000 pengunjung dan omzet Rp47 miliar selama dua hari.

"Dalam tiga hari ini, kami mendapatkan laporan, sebanyak 75 ribu pengunjung yang datang, dan meraih omzet sebesar Rp47 miliar dalam dua hari. Ini capaian yang luar biasa, menunjukkan minat masyarakat yang cukup tinggi,” katanya.

Direktur Jenderal IKM Gati Wibawaningsih menuturkan IKM kerajinan menjadi salah satu penopang perekonomian nasional karena bisa berkontribusi secara konsisten.

Pada ajang Inacraft 2018, Kemenperin menyediakan booth sosialisasi program Ditjen IKM berupa Klinik Pengembangan Desain Kemasan dan Merek dan Klinik Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Gati berharap stan tersebut mampu membantu meningkatkan kualitas produk IKM dari segi kemasan, desain, serta labelling. Lalu, di gerai Klinik HKI, pengunjung bisa berkonsultasi tentang layanan maupun perlindungan tentang HKI, serta mendapatkan fasilitasi pendaftaran HKI dari Ditjen IKM Kemenperin.

“Di booth ini, para pengunjung bisa berkonsultasi terkait kemasan yang tepat untuk produknya, serta mendapatkan ilmu tentang desain merek produk IKM yang baik,” ucapnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenperin, inacraft

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top