Ekspor RI ke Jerman Makin Positif

Pemerintah menargetkan pertumbuhan perdagangan ekspor non migas dengan Jerman terus menggembirakan setelah melihat pertumbuhan positif pada awal 2018 dan semakin dekatnya penyelesaian perundingan kerjasama dagang Indonesia Europeran Union Comprehensive Economic Partnership Agreement.
Rayful Mudassir | 25 April 2018 19:03 WIB
Alat pengangkut kontainer (Reach Stacker) dioperasikan untuk memindahkan kontainer ke atas truk, di Pelabuhan Cabang Makassar yang dikelola Pelindo IV, Selasa (20/2/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah menargetkan pertumbuhan perdagangan ekspor non migas dengan Jerman terus menggembirakan setelah melihat pertumbuhan positif pada awal 2018 dan semakin dekatnya penyelesaian perundingan kerjasama dagang Indonesia Europeran Union Comprehensive Economic Partnership Agreement.

Ekspor Migas dan Nonmigas selama periode Januari – Februari 2018 tercatat mengalami kenaikan sebesar3,4% datau dari US$421,0 juta naik US$435,5 juta dibanding periode sama 2017. Sementara impor pada periode yang sama turut meningkat tajam hingga 47,4% atau dari US$744,8 juta para Januari – Februari 2017 menjadi US$704,5 juta periode sama 2018.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mengatakan kinerja neraca perdagangan Indonesia dengan Jerman terus membaik, ditunjukan dengan defisit neraca dagang yang terus mengalami penurunan secara signifikan.

Peforma tersebut diharapkan bakal semakin membaik ke depan dengan semakin terbukanya akses pasar Jerman saat kerangka Indonesia Europeran Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) bisa disepakati segera dan diimplementasikan.

“Performance di kwartal I/2018 cukup memberikan gambaran ke arah kinerja RI yang terus membaik dan momentum ini harus dapat diraih, apalagi ketegangan perang dagang antara AS dengan China mulai memperlihatkan titik terang. AS dan China menunjukkan ke arah kompromi yang pada akhirnya akan kembali meningkatkan perdagangan global termasuk di kawasan EU,” kata Kasan kepada Bisnis, Rabu (25/4/2018).

Sementara itu, dilihat dari mayoritas komoditas yang diekspor ke negara tersebut seperti peralatan mesin, sepatu, barang-barang berupa pakaian, karet, mesin elektronik, rembah-rempah termasuk kopi, teh, mate dan sejumlah jenis lainnya, hingga kimia organik.

Pemerintah menargerkan ekspor non migas ke Jerman terus tumbuh positif terlebih dilihat dari capaian Januari – Februari 2018 sudah menunjukan pertumbuhan positif lebih dari 3%. “Jadi kinerjanya sudah sesuai perkiraan yang kami targetkan,” kata Kasan.

Kerjasama Vokasi

Sementara itu Kamar Dagang dan Industri Indonesia melakukan penandatangan kerjasama dengan IHK Trier Jerman untuk melaksanakan pelatihan vokasi kejuruan ganda yang memadukan pendidikan dan praktek.

Penandatangan tersebut dilakukan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Anton J Supit bersama IHK atau Kadin Trier Jerman. Kerjasama ini akan berlangsung selama tiga tahun mendatang guna meningkatkan kemampuan siswa kejuruan.

Kerjasama ini menjadi wadah di mana organisasi kedua negara tersebut akan membuat pola pemagangan dengan berbasis 70% dilakukan praktek sementara 30% lainnya merupakan in house training di sekolah.

Wakil Ketua Umum Kadin, Anton J Supit mengemukakan kemitraan tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai wadah meningkatkan upskill para pemagang.

"Yang penting realisasi di lapangan kedua pihak bisa bekejsama di tahun akan datang. Apapun yang terjadi vokasi harus most go on," kata Anton di Hotel JS Luwansa, Rabu (25/4/2018).

Program ini ditargetkan dalam memberikan kesiapan kerja bagi peserta magang. Sementara pelajar SMK nantinya bakal mendapat training dari mentor yang telah dipilih oleh Kadin Indonesia dan IHK Trier.

Adapun lama masa vokasi atau magang berjalan sekitar tiga sampai enam bulan. Tujuan pemagangan sendiri untuk memberikan pengetahuan lebih kepada pemagang sehingga industri mudah mendapatkan tenaga kerja yang diinginkan.

Sementara itu program vokasi tersebut dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kedua daerah ini merupakan salah satu wilayah dengan jumlah industri yang tidak sedikit. Keduanya akan menjadi pilot projek untuk menjalankan program vokasi kejuruan ganda itu.

"Sistem ganda harus berpijak di dua tempat, bukan sekolah sambil bekerja, akan tetapi bekerja sambil sekolah, agar setelah tamat SMK mereka bisa langsung mendapat kerja sesuai konferensi," katanya.

 

 

Tag : jerman
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top