Pabrikan Makanan & Minuman Minta Fasilitas Ekspor Diperluas

Pelaku industri makanan dan minuman berharap pemerintah dapat mendorong ekspor produk makanan dan minuman olahan. Salah satunya melalui perluasan fasilitas kredit ekspor dengan suku bunga yang bersaing dengan tujuan selain ke negara-negara Afrika.
Annisa Sulistyo Rini | 23 April 2018 17:18 WIB
Pembeli memilih produk makanan. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku industri makanan dan minuman berharap pemerintah dapat mendorong ekspor produk makanan dan minuman olahan. Salah satunya melalui perluasan fasilitas kredit ekspor dengan suku bunga yang bersaing dengan tujuan selain ke negara-negara Afrika.

Adhi S. Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan saat ini pemerintah telah memberikan kemudahan ekspor seperti penghapusan syarat certificate of analysis melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan serta kemudahan izin online national single window melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian.

“Yang kami inginkan lagi sebenarnya dukungan bunga pinjaman untuk ekspor. Pemerintah kemarin sudah mengalokasikan untuk ekspor ke Afrika. Kami ingin tidak hanya ke Afrika, tetapi juga ke negara lain,” ujarnya seusai pembukaan pameran produk industri makanan dan minuman di Jakarta, Senin (23/4/2018).

Adhi menyebutkan untuk bantuan pinjaman ekspor ke Afrika, pemerintah telah mengalokasikan dana senilai Rp1,3 triliun melalui Eximbank dengan bunga murah, mendekati suku bunga SBI. Namun, baru 20% dari dana tersebut yang telah dimanfaatkan oleh pelaku industri.

Hal ini disebabkan produk Indonesia tidak untuk menembus dan bersaing di pasar Afrika karena terkena bea masuk. Untuk produk makanan olahan, Adhi menyebutkan bea masuk yang diterapkan di atas 25% hingga 40%.

“Kalau ke negara lain bisa, lebih enak. Apalagi kalau ada kredit ekspor ke negara-negara Asia, bisa lebih cepat berkembang karena industri mamin Indonesia sudah masuk ke India, China, Filipina, dan Jepang,” ujarnya.

Dia berpendapat, pemerintah tidak akan merugi dengan memberikan kredit ekspor kepada pelaku industri karena sebagai imbal balik, negara mendapatkan devisa. Lebih jauh, saat ini sektor makanan olahan masih defisit sekitar US$1,3 miliar. Namun, neraca perdagangan akan positif jika memasukkan keseluruhan industri makanan dan minuman dan produk semi olahan, seperti produk turunan kelapa sawit.

Kementerian Perindustrian mencatat pertumbuhan industri makanan dan minuman sepanjang tahun lalu mencapai 9,23% atau meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 8,46%. Nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk kelapa sawit mencapai US$31,7 miliar.

Dari sisi investasi, sektor ini menyumbang Rp38,54 triliun untuk penanaman modal dalam negeri dan US$1,97 miliar untuk penanaman modal asing.

 

Tag : industri makanan dan minuman
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top