Akuisisi Uber oleh Grab Timbulkan Pengangguran. Kok Bisa?

Aplikasi Uber yang akan resmi ditutup mulai 8 April 2018, sehingga para pengemudi Uber akan kesulitan melakukan pendaftaran kepada Grab sebagai pemilik baru Uber dalam waktu singkat.
Newswire | 02 April 2018 19:25 WIB
Kantor Uber dan Grab di Singapura - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pendeknya rentang waktu penutupan aplikasi Uber sebagai dampak akuisisi oleh Grab dinilai sejumlah pengamat transportasi akan menimbulkan lonjakan pengangguran.

Aplikasi Uber yang akan resmi ditutup mulai 8 April 2018, sehingga para pengemudi Uber akan kesulitan melakukan pendaftaran kepada Grab sebagai pemilik baru Uber dalam waktu singkat.

Ketua Dewan Pakar Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit mengatakan akuisisi Uber oleh Grab ini memang berdampak kepada para pengemudi Uber tidak memiliki pilihan lain untuk mengikuti aksi korporasi antara Grab dan Uber.

“Ini risiko di sisi mitra yang memang tidak bisa sepenuhnya diakomodasi operator,” kata Danang, Senin (2/4/2018).

Untuk itu, ia menilai Gojek Indonesia sebagai pemilik aplikasi sejenis agar dapat turut berperan dalam menampung pengemudi/driver tersebut.

Kepastian nasib pengemudi Uber ini sangat penting, terlepas dari persaingan sengit antara Go-Jek dan Grab.

Jika ada pengemudi Uber yang memilih bermitra dengan Go-Jek, lanjut Danang, seharusnya tidak menjadi masalah karena tinggal bagaimana kebijakan dari masing-masing operator. “Jadi apakah Go-Jek mau menyerap driver Uber atau tidak,” ujarnya.

Tak terserap Hal senada juga diungkapkan oleh Darmaningtyas, Ketua Institut Studi Transportasi (Instran).

Menurut Darmangingtyas, jika para pengemudi Uber tidak terserap seluruhnya, maka bisa mengurangi suplai transportasi online di lapangan.

Pasalnya, permintaan akan transportasi online jumlahnya terus bertambah seiring dengan makin banyaknya warga masyarakat yang memilih transportasi online karena lebih praktis ketimbang menggunakan kendaraan pribadi.

“Jadi jika tidak terserap akan mengurangi suplai,” katanya.

Ribuan pengemudi ojek Uber telah mendaftar ramai-ramai ke kantor Gojek Indonesia. Eksodus pengemudi Uber ke kompetitor Grab itu sudah ramai di media sosial Twitter sejak beberapa hari lalu.

Di komunitas mitra Gojek di Facebook juga beredar pemberitahuan soal cara pendaftaran khusus pengemudi Uber ke Gojek.

Senin (26/3) pekan lalu, Grab resmi mengakuisisi Uber. Uber sepakat menjual bisnisnya di kawasan Asia Tenggara kepada Grab. Sejumlah negara di Asia Tenggara yang aset dan operasional Uber akan segera dialihkan ke Grab adalah Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Sebagai bagian dari akusisi, Uber akan memiliki 27,5% saham di Grab dan Dara Khosrowshahi selaku CEO Uber akan bergabung dengan dewan direksi Grab.

Hengkangnya Uber dari wilayah Asia Tenggara menandakan layanan ride-sharing tersebut sudah menyerah tiga kali dalam bersaing dengan para kompetitornya.

Sebelum menjual layanan operasionalnya di Asia Tenggara ke Grab, Uber juga sempat melakukan hal serupa kepada pesaingnya/kompetitornya di Didi Chuxing di Tiongkok dan Yandex di Rusia.

Sumber : Antara

Tag : taksi uber, grab indonesia
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top