Sektor Industri Masih Hadapi Banyak Permasalahan Struktural

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan masih banyak masalah struktural yang harus diselesaikan untuk meningkatkan potensi industri.
M. Richard | 31 Maret 2018 09:41 WIB
Pekerja merakit ponsel Infinix di pabrik perakitan PT. Adi Reka Mandiri (ARM) Cikarang, Jawa Barat, Selasa (20/3/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Optimalisasi potensi industri di Indonesia dinilai masih terhambat oleh berbagai masalah struktural.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan masih banyak masalah struktural yang harus diselesaikan untuk meningkatkan potensi industri.

"Kalau bicara industri, masalahnya komplit, masalahnya agak struktural," paparnya kepada Bisnis, Jumat (30/3/2018).

Pertama, masalah investasi. Investasi tumbuh signifikan tahun lalu, tapi lebih banyak didominasi oleh investasi ke sektor jasa.

Bhima memaparkan porsi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) ke sektor jasa naik signifikan dari 37,8% pada 2016 menjadi 45,6% pada 2017. Bahkan, porsi investasi penanaman modal asing (PMA) ke sektor jasa meloncat dari 26,8% ke 40,3% dari total investasi.

Sementara itu, porsi investasi ke sektor industri pengolahan atau manufaktur baik PMA maupun PMDN terus merosot dari 54,8% pada 2016 menjadi 39,7% pada 2017.

Kedua, masalah daya saing. Bhima menilai daya saing sektor industri Indonesia saat ini semakin tertinggal dari negara tetangga, seperti Vietnam dan Thailand. Dia mencontohkan industri tekstil di indonesia kurang produktif dikarenakan mesin-mesin yang digunakan sudah tua.

"Kondisi ini terjadi juga di beberapa sektor industri strategis lainnya," tambah Bhima.

Pemerintah diharapkan bisa memberi insentif seperti pembebasan bea masuk barang modal, sehingga pelaku industri tertarik untuk meremajakan mesin produksinya.

Ketiga, masalah sumber daya manusia (SDM).

"Ini agak lupa di paket kebijakan yang 16 jilid itu, harusnya SDM lebih prioritas daripada insentif fiskal dan deregulasi," imbuhnya.

Bhima menegaskan sektor industri juga tidak akan dapat tumbuh secara signifikan jika SDM yang tersedia kebanyakan hanya tamatan SMP. Menurutnya, sekarang porsi tenaga kerja lulusan SMP mencapai 70% total tenaga kerja.

Selanjutnya, ungkap Bhima, ada beberapa ketidaksesuaian dalam kebutuhan infrastruktur dan realisasi pembangunan yang berjalan selama ini. Salah satunya, pembangunan jalan tol dari kawasan industri di Jawa Barat ke pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

"Pembangunan yang mendesak itu jalur kereta api, tapi yang dibangun malah jalan tol," jelasnya.

Dengan banyaknya permasalahan yang harus dipecahkan, pertumbuhan sektor industri pada kuartal I/2018 diperkirakan tidak akan melebihi 5%. Apalagi, lanjut Bhima, pertumbuhan ekonomi juga diproyeksi tidak tumbuh setinggai kuartal I/2017 yang mencapai 5,01%. 

Pada tahun lalu, kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 22%. Tetapi, pertumbuhannya sangat lamban, yakni hanya 4,2%.

Tag : industri
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top