Ekspor Ayam Nuget ke Jepang Dimulai

Indonesia memulai ekspor ayam nuget sebanyak 6.000 kg atau satu kontainer ke Jepang pada tahun ini sebagai langkah ekspansif setelah mengalami swasembada ayam di dalam negeri.
Rayful Mudassir | 22 Maret 2018 19:20 WIB
Ilustrasi. - .Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia mengekspor ayam nuget untuk  pertama kalinya ke Jepang yang merupakan pasar potensial dengan tingkat konsumsi ayam cukup tinggi.

Indonesia diharapkan dapat merebut pasar konsumsi produk makanan olahan berbasis unggas 10% dari total US$2 miliar per tahun.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan ekspor ke Jepang untuk produk makanan olahan membutuhkan waktu yang lama. Pasalnya negara tersebut memiliki standar yang cukup tinggi terutama dari segi kesehatan.

Bahkan ekspor ini terhambat hingga empat tahun karena harus melewati proses seleksi dan syarat ketat yang ditetapkan oleh negara tersebut. Belum lagi Indonesia harus bersaing dengan eksportir makanan olahan berbahan unggas lainnya seperti China dan Thailand.

"Kami pahami bahwa Jepang melakukan pengetatan syarat untuk kepentingan domestiknya baik produksi Jepang sendiri dan kesehatan," kata Enggar saat melepas keberangkatan ekspor satu kontainer ayam nuget di Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/3/2018).

Menurutnya dengan dibukanya ekspor ke Negeri Samurai tersebut, akan memudahkan RI membuka akses pasar yang dituju. Sejumlah pasar yang dinilai layak untuk menjadi pelabuhan produk ayam nuget lainnya seperti Asia Selatan, Asia Tengah, Afrika dan Timur Tengah.

Salah satu optimisme tersebut kata Enggar memiliki alasan khusus. Pasalnya produk halal asal Indonesia mendapat tempat yang baik di mata global. Pemerintah meyakini setiap perizinan ekspor akan dipermudah oleh pemerintah. Meski begitu, Enggartiasto mengklaim bakal mempersulit setiap proses impor barang jadi guna melindungi industri dalam negeri.

"Kami siap membantu apapun kebutuhannya sejauh itu akan memberikan hasil yang positif bagi kebutuhan usaha terutama dalam meningkatkan ekspor dan menarik investasi, kita bantu sepenuhnya," ujarnya.

Sementara, ekspor ayam nuget pertama ini dilakukan oleh PT Belfoods Indonesia, anak perusahaan PT Sierad Produce Tbk., dari Gunung Sewu Group. CEO PT Sierad Produce Tommy Wattimena mengaku ekspor ini dilakukan setelah produksi ayam di Indonesia cukup baik.

"Indonesia sudah swasembada produksi ayam sehingga 100% bahan baku tidak impor produksi 55 juta ekor per minggu. Artinya langkah ke depan harus bisa ekspor jualan ke luar negeri dan luar biasa atas kesuksesan Belfoods yang telah merintis hal ini," kata Tommy di lokasi yang sama.

Pihaknya menargetkan mampu mengekspor pasar ayam nuget di Jepang minimal satu kontainer dalam satu bulan. Jika pasar satu kontainer berisikan 6.000 kg, maka diestimasi ekspor tersebut akan berjumlah 54.000 kg hingga akhir 2018 (Maret - Desember).

Pihaknya menilai dalam ekspor pertama Maret ini, biasanya dibutuhkan 3 sampai 4 bulan agak dapat diterima dan pasar. Sementara itu saat ini dengan kapasitas produksi mencapai 1.200 ton per bulan, industri dapat menghasilkan produk olahan mencapai 80%.

Untuk diketahui, sebelum memulai ekspor usaha pembukaan pasar sudaj dimulai sejak 2014. Saat itu delegasi Perseroan bersama Pemerintah Indonesia berkunjung ke Tokyo untuk berunding agar Pemerintah Jepang membuka pasarnya bagi produk ayam Indonesia.

Hasilnya Pemerintah Jepang kemudian mengirimkan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan melakukan audit ke PT Belfoods Indonesia pada tahun 2015. Melalui proses audit yang ketat, Belfoods mendapat sertifikasi kelayakan di tahun 2016 untuk melakukan ekspor.

Tag : ekspor
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top