UMKM masih Terkendala Akses Permodalan

Kendala berupa akses permodalan dan pemahaman terhadap bisnis dinilai kerap menjadi tantangan bagi para kreator lokal atau pelaku Unit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berkembang menjadi perusahaan berskala nasional.
Deandra Syarizka | 16 Maret 2018 14:44 WIB
Markoem (84) perajin biola memeriksa salah satu biola produksinya di kawasan Kaliasin, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (2/2). - ANTARA/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA-- Kendala berupa akses permodalan dan pemahaman terhadap bisnis dinilai kerap menjadi tantangan bagi para kreator lokal atau pelaku Unit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berkembang menjadi perusahaan berskala nasional.

William Tanuwijaya, Chairman Maker Fest 2018 sekaligus CEO Tokopedia, menilai saat ini terdapat lebih dari 2,7 juta penjual di tokopedia. Namun, sebagian besar di antaranya masih berskala UMKM.

"Belajar dari membangun Tokopedia, saya menyaksikan banyak sekali potensi. Namun dari 2,7 juta penjual, banyak yang mentok hanya di level umkm, fokusnya hanya di dagang tapi brand-nya tidak nasional, " ujarnya, Jumat (16/03).

Berdasarkan pemikiran itu, dia pun membentuk Maker Fest 2018, sebuah gerakan independen untuk pemberdayaan UMKM. Tujuan gerakan ini adalah mencari sekaligus mengedukasi bagi para kreator lokal Indonesia untuk merealisasikan dan mengembangkan ide usaha kreatif mereka hingga bisa menjadi produk berskala nasional.

Melalui acara yang diselenggarakan pada April-Desember 2018 ini, pihaknya akan menyelenggarakan kompetisi sekaligus pelatihan dan konsultasi bisnis di 8 kota besar yaitu Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar.

Nantinya, dari 24 peserta terpilih berskalan nasional, sebanyak 10 finalis terbaik akan diberikan kesempatan untuk mempresentasikan bisnisnya di ajang Festival Maker Fest 2018. Adapun sebanyak tiga juara terbaik juga akan mendapatkan modal untuk pengembangan usaha mulai dari Rp200 juta, Rp300 juta, hingga Rp1 miliar.

"Selama ini, Tokopedia selalu ditanya kapan siap melantai di bursa? Namun cita-cita kami sekarang, justru indikator keberhasilan kami adalah para kreator lokal ini dapat lebih dulu IPO dibanding kami, " jelasnya.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf menjelaskan setiap subsektor ekonomi kreatif memerlukan perlakuan khusus antara satu dan lainnya.

Dia mencontohkan pengembangan usaha fashion pasti berbeda dengan kuliner. Oleh karena itu, dia pun mengapresiasi sekaligus mendorong swasta untuk lebih banyak berperan dalam pengembangan UMKM.

"Penanganannya mau tidak mau harus spesifik di setiap subsektor. Nanti baru dibentuk semacam template atau panduan supaya bisa diduplikasi," jelasnya.

Dia menilai, salah satu kekurangan pelaku industri kreatif adalah pemahaman terhadap pembukuan. Padahal, pembukuan merupakan salah satu syarat UMKM dapat mengakses permodalan dari perbankan. Selain itu, dia menyebut jumlah pelaku industri kreatif yang telah berbadan hukum masih sangat sedikit.

Data Bekraf mencatatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi kreatif sebesar 7% setiap tahunnya. Pada 2015, ekonomi kreatif menyumbang Rp852 triliun terhadap PDB. Jumlah tersebut meningkat menjadi Rp894,6 triliun pada 2016.

Sejalan dengan hal itu, nilai ekspor ekonomi kreatif juga terus meningkat setiap tahunnya, dari Rp19,4 miliar pada 2015, menjadi Rp19,9 miliar pada 2016 dan Rp22,1 miliar pada 2017. Sementara pada tahun ini nilai ekspor ekonomi kreatif ditargetkan dapat mencapai Rp23,7 miliar dan terus meningkat hingga Rp25,1 miliar pada tahun depan.

Dari 16 subsektor ekonomi kreatif, Triawan menyebut sektor fashion, kuliner dan kriya menjadi sektor unggulan yang menyumbang lebih 70% dari total kontribusi ekonomi kreatif secara nasional. Data Bekraf mencatat, subsektor kuliner menyumbang hingga 41,69%, fashion 18,15%, dan kriya 15,7%. Diikuti dengan sektor lainnya televisi dan radio sebesar 7,78%, penerbitan 6,29%, arsitektur 2,3%, aplikasi dan permainan 1,77%.

Sementara itu, terdapat sembilan sektor yang tingkat kontribusinya masih di bawah 1%. Sebut saja periklanan 0,8%, musik 0,47%, fotografi 0,45%, seni pertunjukan 0,26%, desain produk 0,24%, seni rupa 0,22%, desain interior dan film masing-masing 0,16%, serta 0,06%

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
umkm, tokopedia

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top