Singapore Airshow Usai, Kontrak GMF Capai US$2,4 Miliar

JAKARTA PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. berhasil membukukan perjanjian kerja sama senilai US$2,4 miliar selama 6 hari perhelatan Singapore Airshow 2018.
Hendra Wibawa | 13 Februari 2018 15:46 WIB
Dirut Garuda Indonesia Pahala N. Mansury (ketiga kanan) didampingi Dirut Garuda Maintenance Facility Aero Asia Iwan Joeniarto (kedua kanan) menerima cendera mata dari SEVP International Development Thales Group Thales Pascale Sourisse, disaksikan Menhub Budi Karya Sumadi (kedua kiri), dan Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso (kanan) di ajang Singapore Airshow 2018, Singapura, Selasa (6/2/2018). Thales dan GMF akan memodernisasi inflight entertainment di pesawat Airbus A330 Neo. - JIBI/Hendra Wibawa

JAKARTA – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. berhasil membukukan perjanjian kerja sama senilai US$2,4 miliar selama 6 hari perhelatan Singapore Airshow 2018.

Direktur Utama Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMF) Iwan Joeniarto mengatakan keberhasilan itu ditorehkan bersama Garuda Indonesia Group yang ikut serta dalam ajang pameran kedirgantaraan terbesar di Asia itu pada 6-11 Februari 2018.  

Dia memerinci porsi nilai kontrak yang diperoleh emiten dengan kode saham GMFI itu adalah US$1,7 miliar berasal dari pendapatan perawatan pesawat dari maskapai afiliasi serta beberapa mitra strategis seperti yang tercatat dalam prospektus saat perusahaan melantai di bursa Oktober 2017.

Untuk nilai kontrak sisanya sebesar US$700 juta, tegasnya, merupakan kontrak baru.

“Sebagai perusahaan publik, kami senantiasa berusaha untuk memenuhi janji kami,” katanya, Selasa (13/2/2018).

Dia memaparkan salah satu janji yang direalisasikan perusahaan adalah penandatanganan kerja sama untuk ekspansi di kawasan Timur Tengah dan juga Australia.

Untuk pasar Timur Tengah, GMFI menggandeng DME Aviation Service DWC LLC yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Khusus pasar Australia, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk itu bermitra dengan Aviation Global Pty Ltd (KORR) untuk membuka cabang bengkel pesawat di negara Kanguru yang ditargetkan beroperasi tahun ini. “Mitra telah melakukan kesepakatan dengan kami dan selanjutnya akan dilakukan pembahasan untuk mempersiapkan operasionalnya,” tuturnya.

Iwan juga menambahkan area ekspansi ke Timur Tengah dan Australia tersebut menjadi pilihan karena memiliki potensi pasar perawatan yang cukup tinggi khususnya dalam bidang line maintenance.

Dengan kemitraan strategis itu, tegasnya, GMFI dapat memiliki daya saing yang lebih tinggi lagi dibandingkan dengan perusahaan perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance repair and overhaul (MRO) kelas dunia lainnya. “Dengan bermitra kami harap dapat menyerap lebih besar lagi pasar perawatan pesawat dunia untuk pendapatan yang lebih besar lagi,” tambahnya.

Untuk ekspansi tersebut, Iwan juga turut menyiapkan tenaga kerja yang diproyeksikan dapat membantu proyek ekspansi ke pasar internasional.

Menurutnya, sebanyak sembilan politeknik telah berkomitmen untuk mencetak lulusan siap kerja di GMFI. Kesembilan politeknik itu adalah Politeknik Negeri Medan, Universitas Suryadharma, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Negeri Sriwijaya, Politeknik Negeri Batam dan Sekolah Tinggi Teknik Adisucipto.

“Komitmen ini juga dikukuhkan dalam ajang Singapore Airshow 2018 ini. Setelah lulus, nantinya siswanya siap pakai, memiliki basic license dan bisa langsung bekerja,” tambahnya.

Tag : gmf aeroasia
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top