Jerman Dukung Antidiskriminasi terhadap Sawit

Jerman mendukung antidiskriminasi terhadap produk kelapa sawit setelah berkunjung ke kebun di Sumatra Utara.
Sri Mas Sari | 11 Februari 2018 14:57 WIB
Buah kelapa sawit - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Jerman mendukung antidiskriminasi terhadap produk kelapa sawit setelah berkunjung ke kebun di Sumatra Utara.

Dukungan itu disampaikan oleh Ketua Bidang Otonomi Daerah Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kacuk Sumarto yang mendampingi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Timor Leste, dan Asean Michael Freiherr von Ungern-Sternberg dalam kunjungan ke perkebunan sawit PT Paya Pinang di Sumut.

Menurut Kacuk, Stenberg memberikan sikap positif terhadap perkembangan industri sawit di Indonesia. Sang Dubes mendukung perlakuan yang adil dan nondiskriminasi di bidang perdagangan, baik yang bersifat tarif maupun nontarif.

"Dubes Michael juga meminta sawit diusahakan lebih berkeadilan. Artinya, ada sinergi antara petani dan pengusaha. Dia mendukung pula pelaksanaan ISPO [Indonesia Sustainable Palm Oil] untuk digunakan semua pelaku usaha," katanya dalam siaran pers, Minggu (11/2/2018).

Kacuk yang juga Presiden Direktur PT Paya Pinang menyebutkan empat aspek penting dalam pertemuan Gapki dengan Jerman.

Pertama, sawit indonesia tidak membutuhkan perlakuan istimewa, tetapi perlakuan adil.

Kedua, pelaku usaha sawit Indonesia, baik korporasi maupun petani, berupaya memperbaiki tata kelola melalui standar ISPO.

Ketiga, perkebunan sawit dibangun di atas lahan terdegradasi, bukan hutan primer. Perkebunan sawit lantas menggunakan pupuk organik sekitar 65%.

Keempat, perkebunan sawit dibangun untuk menyejahterakan masyarakat karena pemainnya merupakan petani (smallholders) dan berkomitmen terhadap keberlanjutan.

Sternberg mendukung pelaksanaan kewajiban ISPO karena merupakan praktik keberlanjutan yang mengacu pada aturan pemerintah.

"Seharusnya, pelaku sawit yang menerapkan ISPO berhak atas harga premium juga," ujar Sternberg.

Dia pun mengapresiasi praktik keberlanjutan sawit dan mengusulkan agar Indonesia menyampaikannya kepada organisasi nonpemerintah (NGO) Jerman untuk menangkis kampanye negatif.

Gapki, kata Kacuk, siap berdialog dengan kedutaan besar negara lain lain dan NGO mengenai aspek positif dan kontribusi sawit.

Parlemen Uni Eropa pada pertengahan Januari 18 mengesahkan rancangan proposal energi yang menghapus penggunaan biodiesel yang berasal dari minyak sawit. Dalam pemungutan suara di kantor Parlemen Uni Eropa di Strasbourg, Prancis, seluruh politisi blok bermata uang tunggal itu mendukung 'Report on the Proposal for Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the Use of Energy from Renewable Sources'.

Proposal itu membatasi bahan bakar dari makanan dan tanaman yang menyebabkan penggundulan hutan dan kenaikan harga pangan, termasuk sawit.

Tag : sawit, kelapa sawit
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top