EKSPLOITASI MIGAS, Ketika Warga Setempat Mulai Menikmati Gas Bumi

Sebuah lompatan besar dalam pembangunan desa terjadi di Dusun Lumpatan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Untuk pertama kalinya, warga daerah penghasil minyak dan gas terbesar di provinsi itu dapat merasakan kekayaan sumber daya alam melalui jaringan gas rumah tangga.
Dinda Wulandari | 29 November 2017 08:37 WIB
Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Jobi Triananda Hasjim saat mendampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignatius Jonan saat mengunjungi pembangunan jaringan gas rumah tangga di Kecamatan Prajurit Kulon, Mojokerto (13/8/2017). - Istimewa

Bisnis.com, PALEMBANG - Sebuah lompatan besar dalam pembangunan desa terjadi di Dusun Lumpatan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Untuk pertama kalinya, warga daerah penghasil minyak dan gas terbesar di provinsi itu dapat merasakan kekayaan sumber daya alam melalui jaringan gas rumah tangga.

Rustam, warga Dusun IV Lumpatan, mengatakan bahwa selama ini harus mencari kayu bakar untuk keperluan keluarganya memasak di rumah.

“Kehadiran jargas [jaringan gas] membuat saya tidak perlu lagi mencari kayu ke hutan untuk keperluan memasak, memudahkan,” katanya.

Musi Banyuasin menghasilkan gas bumi sebanyak 865 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd).

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatra Bagian produksi migas di Musi Banyuasin melebihi separuh dari total produksi gas Sumsel 1.500 MMscfd.

Dari kabupaten yang dijuluki Bumi Serasan Sekate itu, gas bumi sudah mengalir dan mendukung pembangunan daerah lain, mulai dari Jawa hingga Singapura.

Namun, energi yang dihasilkan daerah itu selama ini belum dinikmati warga secara langsung. Terbukti dari masih adanya daerah di Muba yang belum teraliri listrik atau kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk sekedar memasak sehari-hari.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengatakan, sudah seharusnya pemerintah pusat lebih memperhatikan daerah penghasil, seperti Muba karena daerah tersebut harus menanggung kerusakan lingkungan akibat dari eksploitasi migas selama ini.

Menurut Alex, sejak 10 tahun lebih gas tersebut sudah dikirimkan ke berbagai daerah termasuk ke Singapura dan pada saatnya nanti gas tersebut akan habis.

“Sebelum gas habis harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk Indonesia, serta harus mengutamakan terlebih dahulu masyarakat setempat,” katanya.

Jargas merupakan salah satu program nyata yang dapat dirasakan masyarakat daerah penghasil. Maka pemerintah menggandeng PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. merealisasikan pembangunan tersebut.

Perusahaan yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas itu merupakan salah satu BUMN yang mendapat penugasan untuk menyalurkan gas bumi untuk jaringan rumah tangga.

Sepanjang tahun ini, Kementerian ESDM telah menugaskan PGN dan PT Pertamina (Persero) untuk membangun jargas rumah tangga sebanyak 59.809 sambungan rumah (SR) di 10 kabupaten/kota. Kabupaten Muba mendapat alokasi sebanyak 6.031 SR.

Pemerintah memang terus mendorong penggunaan gas bumi bagi rumah tangga untuk mengurangi subsidi elpiji. Selain itu, gas bumi dinilai sebagai energi yang bersih serta murah bagi masyarakat.

Meski pembangunan jargas sudah digalakkan sejak 2009, tetapi anggaran pemerintah selalu terbatas sehingga perlu peran BUMN untuk memperluas jaringan tersebut.

PGN sendiri selain mendukung pembangunan jargas melalui APBN juga telah membuat program Sayang Ibu untuk gas rumah tangga yang mana infrastrukturnya dibangun murni lewat kocek perseroan.

Jika ditengok sejarahnya, keterlibatan PGN dalam menyalurkan gas untuk rumah tangga di Sumsel dimulai pada 1998, yaitu mengaliri gas untuk sebagian warga Kota Palembang dan berlanjut hingga kini.

Islahiyah, warga Komplek Pusri Sukamaju, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sako, Kota Palembang, merupakan salah satu calon pelanggan rumah tangga PGN.

Perempuan berusia 62 tahun itu tertarik mendaftar sebagai pelanggan karena mendengar manfaat yang didapat dibandingkan menggunakan elpiji.

“Saya ingin cari hematnya, karena kalau selama ini pakai LPG [elpiji] bisa habis Rp250.000 per bulan ini [gas bumi] cuma Rp100.000 per bulan,” katanya.

DUKUNG INDUSTRI

Sales Area Head PGN Cabang Palembang Makmuri mengatakan, selama ini pihaknya sudah menyalurkan gas bumi dari Muba untuk mendukung pembangunan di berbagai kota di Tanah Air.

“Jadi pembangunan jargas untuk masyarakat Muba yang kami lakukan itu seperti lompatan besar untuk mereka karena warga juga bisa merasakan manfaat gas bumi.”

Makmuri menjelaskan, gas bumi dari Muba sudah disalurkan untuk keperluan berbagai industri di Tanah Air. Termasuk juga mendukung keandalan listrik Sumatra melalui Pembangkit Listrik Tenaga Gas ( PLTG) Talang Duku.

Selain bertujuan untuk semakin memperkuat keandalan dan ketangguhan pasokan listrik di wilayah Sumatra, khususnya Sumbagsel sekaligus untuk memenuhi kebutuhan konsumsi listrik yang terus meningkat di wilayah itu, pengoperasian PLTG Talang Duku bertujuan untuk mengurangi ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak (BBM).

Kementerian ESDM pernah menghitung potensi penghematan pemakaian BBM dengan kehadiran PLTG itu bisa mencapai 134 juta liter per tahun atau setara dengan Rp1,2 triliun per tahun.

Dia memaparkan PLTG Talang Duku yang berkapasitas 60 megawatt itu merupakan pelanggan industri yang mendominasi penyaluran PGN Cabang Palembang.

Menurut Makmuri, PGN Cabang Palembang memiliki 6.019 pelanggan per September 2017. Dari jumlah tersebut 5.785 merupakan pelanggan rumah tangga, sedangkan 234 pelanggan merupakan komersial dan industri.

“Hampir 99% konsumsi gas yang kami salurkan untuk PLTG Talang Duku, ada pula industri makanan seperti pabrik Indofood dan Interbis yang menjadi pelanggan kami,” katanya.

Menurut dia, berbagai toko usaha yang berada di sepanjang jalan protokol Kota Palembang juga merupakan pelanggan PGN.

Mulai dari hotel berbintang, mal, rumah makan, warung pempek hingga usaha laundry.

Tak hanya itu, terdapat pula pelanggan PGN yang bergerak di bidang usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Salah satunya adalah pabrik Roti Bola Dunia yang saat ini telah memproduksi 1.000 roti per hari. Pabrik tersebut memanfaatkan 100% energi gas bumi.

Rusjanti, pemilik Pabrik Roti Bola Dunia, mengatakan banyak manfaat yang didapat setelah menggunakan gas bumi. Selain bisa menghemat pengeluaran hingga 50% dibandingkan dengan memakai tabung LPG, pihaknya juga merasa lebih mudah dan efisien jika menggunakan jaringan gas bumi.

Sudah sepatutnya, masyarakat di daerah penghasil minyak dan gas bumi bisa merasakan manfaat langsung dari pemakaian gas untuk kebutuhan sehari-hari.

Tag : gas bumi, pipa gas
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top