Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Gas Mahakam Ditarget Menyentuh 1.100 MMscfd di 2018

Produksi gas Blok Mahakam ditargetkan bakal menyentuh 1.100 juta kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day/MMscfd mengacu pada rencana kerja dan anggaran (work plan and budget/WP&B) 2018.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 10 November 2017  |  09:19 WIB
Produksi Gas Mahakam Ditarget Menyentuh 1.100 MMscfd di 2018
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi gas Blok Mahakam ditargetkan bakal menyentuh 1.100 juta kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day/MMscfd mengacu pada rencana kerja dan anggaran (work plan and budget/WP&B) 2018.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Bambang Manumayoso mengatakan untuk 2018 pihaknya telah menetapkan target produksi untuk 2018 yakni gas sebesar 1.100 MMscfd dan minyak/kondensat 48.000 barel per hari (bph). Produksi itu lebih kecil dibandingkan dengan realisasi paruh pertama 2017.

Dari data SKK Migas, di paruh pertama 2017, produksi minyak Blok Mahakam sebesar 55.100 barel per hari (bph). Sementara gas, 1.504 juta kaki kubik per hari MMscfd.

Dalam WP&B 2018 yang telah diajukan kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), kegiatan yang akan direalisasikan tahun depan setelah pengelolaan resmi beralih kepada Pertamina yaitu 55 pengeboran sumur pengembangan, 125 kegiatan kerja ulang (workover) dan perawatan 5.500 sumur (well service).

Bila dibandingkan dengan target 2017, untuk pengeboran sumur pengembangan jumlahnya naik dua kali lipat. Sementara itu, untuk target workover dan perawatan sumur, target 2018 lebih rendah. SKK Migas mencatat di 2017 yang menjadi tahun peralihan pengelolaan Blok Mahakam, akan direalisasikan pengeboran 25 sumur, 158 kerja ulang, dan perawatan atas 6.820 sumur.

Selain itu, di 2018 rencananya akan dilakukan pengajuan lima rencana pengembangan lanjutan (plan of further development/PoFD). Untuk merealisasikan kegiatan itu, tahun depan pihaknya akan mengeluarkan biaya US$1,8 miliar dengan US$700 juta untuk investasi dan US$1,1 miliar biaya operasi.

"Produksi sudah di-lock di WP&B, 1.100 MMscfd," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Menurutnya, kegiatan masih bisa berubah mengikuti realisasi harga minyak. Bila harga minyak terus naik menembus US$60 hingga US$70 per barel, pihaknya telah menyiapkan kegiatan tambahan.

Seperti kegiatan pengeboran sumur pengembanngan akan bertambah sehingga jumlahnya 70 sumur. Kemudian, untuk kerja ulang akan ditambah tujuh sumur lainnya, perawatan sumur akan dimasukkan 101 sumur tambahan dan tambahan dua proyek untuk pengajuan PoFD.

Seperti diketahui, untuk jenis Brent, harga minyak telah melampaui US$60 per barel kendati masih belum menyentuh titik stabil. Dari sisi realisasi pengeboran, dia menyebut saat ini telah diselesaikan pengeboran 11 sumur pengembangan.

Targetnya, hingga akhir tahun bisa diselesaikan sebanyak 17 sumur dari 19 target sumur yang dibor menggunakan biaya Pertamina. Pasalnya, hingga saat ini, Total E&P Indonesie masih berlaku sebagai operator dengan bermitra dengan Inpex melalui kepemilikan saham partisipasi (participating interest/PI) masing-masing 50%.

Setelah kontrak berakhir 31 Desember 2017, Pertamina, melalui PT Pertamina Hulu Mahakam akan mengoperatori Blok Mahakam. "Kalau harga minyak lebih dari US$60, US$70, ini barangkali bisa kita bor semua," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

blok mahakam produksi gas
Editor : Pamuji Tri Nastiti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top