Peternak Ayam Layer Terus Merugi

Sejumlah peternak layer mulai menjual ayamnya sebagai ayam pedaging, akibat ketiadaan jagung sebagai bahan baku utama pakan.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 04 Juli 2017  |  21:57 WIB
Peternak Ayam Layer Terus Merugi
Pekerja memberi pakan dalam peternakan ayam - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah peternak layer mulai menjual ayamnya sebagai ayam pedaging, akibat ketiadaan jagung sebagai bahan baku utama pakan.

Selain karena ketiadaan pakan, langkah ini juga dipicu harga telur yang sering kali di bawah harga acuan Permendag No. 27 Tahun 2017 yakni Rp18.000 per kg di peternak.

Ayam layer ialah petelur yang dipelihara hingga umur sekitar 75 pekan dengan masa produksi sekitar umur 20-75 pekan.

Data Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) per 3 Juli menyebut, harga telur di Blitar, Jawa Timur, sebesar Rp15.000 - Rp15.500 per kg. Blitar memberikan kontribusi 40% terhadap produksi nasional.

Pada pertengahan bulan lalu, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan memastikan stok jagung di gudang Bulog sebesar 62.900 ton untuk peternak UMKM. Jika stok tidak mampu memenuhi kebutuhan pakan pada Juli dan Agustus, maka pemerintah berencana meminjam stok feedmill.

Namun, dua solusi itu belum juga menjamin ketersediaan jagung bagi peternak. Sementara, di lapangan jagung juga sulit diperoleh.

Presiden Peternak Layer Nasional Musbar menyampaikan peternak tak bisa menggunakan jagung di gudang Bulog karena kualitas jagung turun. Sementara, jika harus meminjam stok jagung feedmill juga tidak memungkinkan karena pelaksanaan di lapangan sulit.

Apalagi, dalam catatan Bisnis (20/6/2017), stok jagung feedmill juga sedang tipis. Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto B. Utomo menyebut stok jagung di pabrik tersisa untuk kebutuhan pakan sebulan.

Sementara, untuk mencapai stok aman, maka dibutuhkan stok jagung minimal untuk kebutuhan pakan dua bulan. Data GPMT per Agustus 2016 menunjukkan kebutuhan jagung GPMT sekitar 600.000-700.000 ton per bulan.

"Mereka sudah pusing. Ayamnya dijual saja ke pasar sebagai ayam pedaging. Rugi sekali, karena fase produktivitas masih tinggi harus dijual," tutur Musbar pada Selasa (4/7/2017).

Peternak meminta pemerintah lebih bijak dalam mengatasi simpang siur ketersediaan jagung. Ini menyusul klaim Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang siap memenuhi kebutuhan jagung Malaysia sebesar 3 juta ton dan Filipina sebesar 1 juta ton. Sementara, kebutuhan peternak layer 200.000 ton per bulan belum terpenuhi.

Jika kondisi ini dibiarkan berlanjut, imbuh Musbar, akan lebih banyak peternak layer yang gulung tikar. Bahkan, tidak menutup kemungkinkan kembali terjadi demo besar oleh para peternak bulan ini.

Ketua Harian Gopan Sigit Prabowo menyampaikan jagung hingga kini masih sulit diperoleh. Kondisi ini mengganggu budidaya broiler. "Budidaya broiler banyak gangguan. Pertumbuhan rata-rata telat, sehingga FC [feed conversi] juga bengkak," katanya pada Selasa (4/7/2017).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternak ayam

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top