Penggunaan CFB Berpotensi Genjot Efisiensi PLN Grup

Peningkatan performance pembangkit dengan teknologi boiler circulating fluidized bed (CFB) menjadi peluang besar bagi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Grup untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya pokok produksi.
Annisa Sulistyo Rini | 28 April 2017 00:32 WIB
Ilustrasi perawatan jaringan listrik PLN - Antara/Rony Muharrman

Bisnis.com, SURABAYA — Peningkatan performance pembangkit dengan teknologi boiler circulating fluidized bed (CFB) menjadi peluang besar bagi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Grup untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya pokok produksi.

Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa Bali, anak usaha PLN, Iwan Agung Firstantara mengatakan peningkatan keandalan pada pembangkit berteknologi boiler CFB yang saat ini rata-rata Equivalent Availability Factor (EAF) hanya sebesar 56% akan berdampak pada penurunan biaya pokok produksi.

Iwan mensimulasikan bila satu pembangkit CFB EAF-nya bisa dinaikkan 25MW dan mengantikan penggunaan penggunaan pembangkit diesel, maka akan ada penghematan yang cukup banyak.

"Setidaknya per jam bisa dihemat Rp 1.800/kWh x 25MW," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (27/4/2017).

Lebih lanjut, Iwan mengungkapkan bahwa permasalahan boiler CFB sudah cukup lama dihadapi PLN Grup. Namun, hingga kini belum ada pembangkit dengan boiler CFB di Indonesia yang bisa dipandang sebagai best practice dalam pola pengelolaan maupun modifikasinya.

PJB kemudian berinisiatif mendatangkan ahli khusus dari Department of Mechanical Engineering Dalhousie University Canada Prabir Basu dalam workshop yang dilaksanakan mulai hari ini hingga Sabtu (29/4/2017). Workshop ini bakal membahas tuntas permasalahan yang ada bersama beberapa ahli dari Tanah Air dan para user boiler CFB.

Basu juga akan mengupas terkait desain serta operation and maintenance boiler CFB. Materi yang diberikan oleh Basu diharapkan memberikan pemahaman menyeluruh terkait aspek-aspek mendasar dari teknologi boiler CFB.

Workshop diikuti oleh perwakilan dari PLN, anak perusahaan PLN, dan unit pengelola pembangkit berteknologi CFB ini diharapkan bisa menelurkan sejumlah action plan untuk meningkatkan kinerja PLTU CFB di lingkungan PLN dan anak perusahaan. Diantaranya berupa standar tata kelola pembangkit CFB.

“Workshop ini dirancang untuk menemukan best practice di bidang O&M dan engineering serta action plan yang segera dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan yang ada,” kata Iwan.

Dia berharap agar selepas workshop bisa segera diwujudkan satu atau dua pembangkit berteknologi CFB boiler yang dapat dijadikan sebagai tempat benchmark.

Penerapan teknologi boiler circulating fluidized bed (CFB) pada pembangkit di Indonesia masih menemui masalah. Performance  lebih dari 50 pembangkit pada FTP 1 dan FTP2 yang menggunakan teknologi tersebut masih berkisar sekitar 56%.

Sementara best practice di negara lain EAF bisa mencapai 85%. Hal ini disebabkan karakteristik boiler CFB masih belum dipahami secara komprehensif. Teknologi CFB Boiler merupakan teknologi yang relatif baru dan dikembangkan sejak tahun 1985. Teknologi ini memiliki karakter yang sangat berbeda dengan karakteristik boiler yang selama ini dikelola oleh PLN.

Kepala Divisi Enjiniring Perencanaan Pengadaan PLN Warsono Martono menilai workshop CFB boiler sangat strategis karena akan memberi nilai signifikan bagi perusahaan.

Warsono mengatakan teknologi CFB boiler termasuk relatif baru bagi PLN dan sudah diimplementasikan di banyak lokasi. Diungkapkan bahwa life cycle (siklus operasional) pembangkit bisa mencapai 30 hingga 40 tahun. Sehingga meningkatkan performa pembangkit tersebut merupakan upaya untuk memaksimalkan pemanfaatannya.

Tag : pln
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top