Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PROSES BREXIT: Soal kesepakatan Dagang, Produsen Inggris Minta Ini ke PM May

Produsen Inggris mengatakan kepada Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk menarik ancaman untuk tidak membuat kesepakatan perdagangan baru dengan Uni Eropa pasca Brexit.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Maret 2017  |  14:50 WIB
Referendum Inggris menangkan suara Brexit. - .Bloomberg
Referendum Inggris menangkan suara Brexit. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen di Inggris mengatakan kepada Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk menarik ancaman untuk tidak membuat kesepakatan perdagangan baru dengan Uni Eropa pasca Brexit.

Permintaan tersebut dilontarkan lantaran para produsen akan menanggung beban hambatan perdagangan dengan Uni Eropa setelah Brexit dilaksanakan.

May berrencana untuk memicu proses Brexit pada Rabu (29/3/2017) dan dia telah memperingatkan 27 negara Uni Eropa lain bahwa tidak akan ada kesepakatan yang baik yang akan terjadi.

"Ide untuk bisa berjalan pergi dengan tangan kosong mungkin merupakan taktik negosiasi, tetapi dalam kenyataannya akan sangat berisiko," ujar Terry Scuoler, Chief executive EEF, seperti dikutip Reuters.

"Retorika dari pemerintah Inggris perlu berfokus pada pencapaian kesepakatan yang akan dibuat untuk Inggris dan Uni Eropa,” lanjutnya.

May telah memutuskan untuk membuat pengawasan atas imigrasi sebagai prioritas pada Brexit, dan telah mengakui bahwa Inggris harus melepas keanggotaannya dari pasar tunggal Uni Eropa untuk mencapai hal tersebut.

Dengan tidak adanya kesepakatan, perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa akan mengacu pada aturan Organisasi Perdagangan Dunia.

EEF mengatakan ekspor manufaktur Inggris untuk Uni Eropa, termasuk seperti mobil, bahan kimia dan mesin, dapat dikenakan pajak rata-rata 5,3%. Selain itu, ada juga risiko hambatan lain untuk perdagangan melalui prosedur kepabeanan dan serta biaya lebih tinggi.

EEF menyerukan konsultasi erat dengan pemerintah pada strategi Brexit dan mengatakan pentingnya masa transisi untuk memudahkan Inggris menjalin hubungan baru dengan Uni Eropa.

Sementara itu, Menteri Brexit Inggris, David Davis, mengatakan bahwa sejak referendum tahun lalu, pemerintah belum menilai dampak ekonomi atas lepasnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan perdagangan baru.

Manufaktur menyumbang sekitar 10% dari perekonomian Inggris. Perusahaan di sektor jasa jauh juga khawatir terhadap akses mereka ke pasar tunggal Uni Eropa, khususnya di industri perbankan, setelah Brexit.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Brexit
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top