Pertamina Masih Pantau Kemungkinan Naiknya Harga Solar dan Premium

PT Pertamina (Persero) masih memantau kemungkinan naiknya harga solar dan premium, sehingga belum bisa memperkirakan bagaimana harga di periode April-Juni 2017.
Duwi Setiya Ariyanti | 18 Maret 2017 02:59 WIB
SPBU - Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--PT Pertamina (Persero) masih memantau kemungkinan naiknya harga solar dan premium, sehingga belum bisa memperkirakan bagaimana harga di periode April-Juni 2017.

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan hingga saat ini pihaknya belum bisa menyimpulkan terkait proyeksi harga solar dan premium periode April hingga Juni. Seperti diketahui, harga jual solar Rp5.150 per liter dan premium Rp6.450 per liter berlaku sejak April 2016 hingga Maret 2016. 

Khusus jenis premium dan solar, pemerintah memiliki kewenangan melakukan penyesuaian harga.

"Hingga saat ini [harga] minyak mentah masih fluktuatif dan volatile, maka belum kami lihat tren yang jangka panjang. Kami akan tetap monitor dan amati perkembangannya," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (17/3/2017).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan tren harga minyak dunia cenderung turun. Selain itu, kelebihan pendapatan Pertamina atas penyaluran solar di 2016 dianggap masih bisa menutupi penyaluran di periode April-Juni 2017.
"Harga minyak sekarang turun dan tahun lalu kami sudah kasih Pertamina untung," ujarnya di Jakarta, Jumat (17/3/2017).

Sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan di 2016 kontribusi terbesar berasal dari lini usaha hilir yakni sebesar 70%. Rendahnya harga minyak di tahun lalu membuat kinerja hilir melesat. Harga minyak di kisaran US$40 per barel, katanya, akan memberi keuntungan di lini usaha hilir.

"Porsi 2016, 70% dikontribusikan dari hilir," ujarnya.

Rendahnya harga minyak akhirnya mendorong penjualan bahan bakar minyak nonsubsidi seperti pertamax dan pertalite sehingga membuat kinerja sepanjang 2016 positif. 

Dari sisi penjualan, terjual liquefied petroleum gas (LPG) secara total 12,06 juta ton atau naik 6,3% dari tahun sebelumnya. 10,67 juta ton di antaranya merupakan LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram (kg) yang penjualannya naik 7,9% dari realisasi tahun lalu yakni 9,8 juta ton. Sementara, LPG nonsubsidi terjual 1,42 juta ton atau turun 3,4% dari capaian tahun sebelumnya sebesar 1,42 juta ton. 

Untuk jenis bahan bakar minyak (BBM), tersalur 64,63 juta kilo liter (kl) atau naik 2,8% dari tahun sebelumnya yaitu 61,8 juta kl. Di tahun 2016, konsumsi BBM bersubsidi seperti solar dan premium turun 11,7% yakni menjadi 23,78 juta kl dari 26,94 juta kl di tahun lalu. 

Kenaikan konsumsi BBM signifikan terlihat pada jenis BBM nonsubsidi yakni pertalite, pertamax, pertamax plus, pertamax racing, pertamax turbo, dexlite dan pertamax dex yakni sebesar 257% menjadi 10,65 juta kl dari semula 2,98 juta kl. 

Sementara, dari sektor pengolahan minyak yang ditandai dengan semakin tingginya hasil produk bernilai tinggi (yield valuable product) menjadi 77,76% naik 4,5% dibandingkan dengan capaian tahun 2015. Di sisi lain, biaya pokok produksi kilang Pertamina semakin rendah menjadi 97,1% atau turun 6,3% dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 103,6%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga premium

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top