Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

58% CPO Bersertifikat Berkelanjutan di Dunia dari Indonesia

Republik Indonesia berkontribusi sebesar 58% dari produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan di seluruh dunia, dan diharapkan jumlah tersebut dapat terus meningkat pada masa mendatang.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 26 Januari 2017  |  18:30 WIB
58% CPO Bersertifikat Berkelanjutan di Dunia dari Indonesia
Ilustrasi. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -  Republik Indonesia berkontribusi 58% dari produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan di seluruh dunia, dan diharapkan jumlah tersebut dapat terus meningkat pada masa mendatang.

Direktur RSPO Indonesia Tiur Rumondang memaparkan, produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan yang telah mendapat sertifikat RSPO secara global saat ini mencapai 12,15 juta ton, atau 17%  dari total produksi minyak kelapa sawit dunia.

Namun begitu, ujar dia, penyerapan minyak kelapa sawit berkelanjutan di dalam negeri masih tergolong minim. "Karena permintaan konsumen di Indonesia juga dinilai masih rendah," ujarnya dalam siaran pernya Kamis (26/1/2017).

Sebelumnya, volume ekspor minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan turunannya pada 2016 mencapai 25,7 juta ton atau turun sekitar 2% dibanding 2015 yang mencapai 26,2 juta ton karena dipengaruhi fenomena cuaca El Nino pada akhir 2015.

"Pada akhir 2015, produksi buah sawit menurun akibat kekeringan El Nino selama 2015. Dari segi volume ekspor memang turun dua persen karena produksi juga menurun sekitar 7% - 30%," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Bayu Krisnamurthi pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/1/2017).

Bayu menjelaskan meski volume eskpor CPO, minyak kelapa sawit kernel (PKO) dan turunannya menurun 2%, nilai ekspor sawit 2016 mencapai US$17,8 miliar atau sekitar Rp240 triliun atau naik 8% dibanding  2015 yang hanya mencapai US$16,5 miliar atau sekitar Rp220 triliun.

Kenaikan nilai eskpor ini disebabkan oleh kenaikan harga CPO global sebesar 41,4%  sepanjang 2016, dengan perbandingan harga CPO pada Juni 2015 sebesar US$535/ton, Januari 2016 sebesar  US$558/ton dan Desember 2016 mencapai US$789/ton.

Namun demikian, BPDP mengingatkan agar eksportir jangan sampai lengah dengan harga CPO terakhir yang dinilai terlalu tinggi tersebut karena bisa mengurangi daya saing Indonesia di pasar minyak nabati secara keseluruhan.

"Kita tahu minyak sawit Indonesia itu bersaing dengan minyak kedelai sehingga kalau harga minyak sawit terlalu dekat dengan harga kedelai, maka daya saing kita menurun," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo rspo
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top