Keamanan bandara: Status Kuning Belum Dicabut

Jelang Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 serta maraknya penangkapan teroris, Kementerian Perhubungan masih mempertahankan status kuning bagi keamanan seluruh bandara Tanah Air.
Hadijah Alaydrus | 20 Desember 2016 15:00 WIB
Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali - Antara/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, JAKARTA--Jelang Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 serta maraknya penangkapan teroris, Kementerian Perhubungan masih mempertahankan status kuning bagi keamanan seluruh bandara Tanah Air.

Status kuning bagi keamanan bandara ini berarti waspada dengan random check sebesar 50% terhadap penumpang. Berdasarkan data Bisnis, status kuning ini telah bertahan selama satu tahun lebih.

Pada 23 November 2015, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memutuskan menaikan status keamanan dari hijau menjadi kuning setelah munculnya ancaman bom di pesawat Singapore Airlines dan di sejumlah bandara negara lain.

Nasir Usman, Direktur Keamanan Penerbangan Kementerian Perhubungan, menyatakan pihaknya belum menerima perintah untuk mencabut status kuning di bandara.

"Sudah satu tahun lebih dari November waktu itu. Kami juga berkoordinasi dengan unit terkait sistem intelijen. Masih dipandang perlu untuk status kuning," ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (20/12).

Setelah Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, dia mengungkapkan Kemenhub akan melakukan evaluasi status kuning ini. Beberapa waktu lalu, Nasir mengatakan otoritas terkait ingin duduk bersama mencabut status itu.

Akibat penangkapan sejumlah tersangka teroris di beberapa kota, dia menegaskan Kemenhub memutuskan untuk mempertahankan status kuning di semua bandara nasional.

"Kita terus menetapkan status kuning sampai ada indikasi [baru] setelah Natal dan Tahun Baru ini," ujarnya.

Bahkan setelah kabar penangkapan teroris, Direktorat Keamanan Penerbangan menghimbau operator bandara dan penerbangan untuk meningkatkan pengawasan.

Dalam keamanan penerbangan ada tiga kondisi yakni, normal atau hijau dengan pemeriksaan manual random sebesar 10%, kuning berarti waspada dengan pemeriksaan 50% dan status merah atau awas.

Pada tingkatan status merah berarti semua aspek keamanan bandara diambil alih oleh TNI AU.

Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura I Israwadi mengatakan masih menerapkan pengawasan keamanan sesuai dengan status kuning yang ditetapkan Kemenhub.

Khusus bandara besar seperti Bandara Ngurah Rai, Bali, pihak AP I menerjunkan tenaga bantuan dari TNI AU sebanyak 40 personil, Polsek KP3U 48 personil, Satbrimob 10 personil, dan pecalang Desa Adat Tuban sebanyak 5 personil.

"Untuk aviation security jumlah keseluruhan 1.015 personil yang dibagi tiga shift. Frekuensi patroli menjadi satu jam dari dua jam di sisi land side dan air side," ujarnya.

Sementara itu, pihak bandara juga akan meningkatkan random check. Untuk Posko Nataru, pihaknya akan membuka di semua bandara milik AP I dari 18 Desember 2016 hingga 8 Januari 2017.

GM PT Angkasa Pura (AP) II Bandara Soekarno Hatta Suriawan Wakan mengungkapkan pihak bandara sudah meningkatkan pengawasan penumpang dan barang di bandara. Selain itu, AP II meningkatkan patroli terhadap mobil yang keluar masuk bandara.

Dia menambahkan AP II juga menjalin kerja sama pengamanan Bandara Soekarno Hatta dengan TNI AU, Kodam AD, Marinir dan Brimob.

"Total kurang lebih 350 personil. Lalu kekuatan aviation security kita ada 2.000 personil," ujarnya.

Selain itu, Bandara Soekarno Hatta juga menambah unit kamera pengawas di titik-titik yang selama ini belum terpantau maksimal, seperti lapangan parkir kendaraan.

Untuk x-ray, dia menegaskan pihak bandara terus mengawasi kualitas dan operasional mesin dengan ketat di setiap terminalnya.

"Semua x-ray kita sudah dual view," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenhub, keamanan bandara

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top