Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Survei: Usaha Lingkup Keluarga Masih Jadi Tumpuan

Kendati kondisi makroekonomi saat ini tidak sepesat tahun lalu, bisnis keluarga masih tetap bergairah dan ambisius untuk meraih pertumbuhan.
Rezza Aji Pratama
Rezza Aji Pratama - Bisnis.com 06 Desember 2016  |  17:58 WIB
Survei: Usaha Lingkup Keluarga Masih Jadi Tumpuan
Usaha makanan skala rumahan - Ilustrasi/Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati kondisi makroekonomi saat ini tidak sepesat tahun lalu, bisnis keluarga masih tetap bergairah dan ambisius untuk meraih pertumbuhan.

Hal ini telihat dari hasil survey bertajuk ‘The Missing Middle: Brigding the Strategy Gap in Family Firms’ yang dilakukan oleh Pricewater Coopers (PwC). Sebanyak 88% bisnis keluarga menargetkan pertumbuhan sedangkan 44% memperkirakan pertumbuhan yang pesat dan agresif.

“Responden kami menyarakan bahwa perusahaan kelaurga adalah bagian penting di ekonomi makro, serta menawarkan stabilitas dan komitmen jangka panjang,” ujar Michael Goenawan, Enterpreneurial and Private Clients Leader PwC Indonesia, Selasa (6/12/2016).

Dia menambahkan banyak bisnis keluarga Indonesia yang akan terus mengandalkan modal mereka sendiri. Mereka yang berencana tumbuh lebih dari 10% setiap tahunnya selama lima tahun ke depan harus menggunakan sejumlah metode pembiayaan eksternal.

Temuan ini juga mengonfirmasi sejumlah tantangan yang harus dihadapi perusahaan keluarga selama 12 bulan ke depan. Mulai dari kondisi ekonomi, persaingan, rekrutmen karyawan, pelatihan dan keuangan atau ketersediaan dana.

Michael menambahkan tantangan utama lima tahun ke depan sebenarnya hamper serupa dengan survey sebelumnya. Namun, kali ini juga mencakup inovasi, upaya mengikuti perkembangan digital dan teknologi baru serta ketidakstabilan pasar.

Mayoritas bisnis keluarga di Indonesia berbentuk wirausaha, streamlined, dan memiliki proses pengambilan keputusan yang lebih cepat. Bisnis keluarga juga perlu bekerja lebih keras untuk merekrut dan mempertahankan SDM yang baik.

Soal konflik juga menjadi salah satu fokus perhatian. Nyaris seluruh bisnis keluarga di Indonesia (97%) memiliki setidaknya satu mekanisme untuk menangani konflik keluarga. Hal ini menunjukkan pentingnya meminimalisir risiko tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

keluarga makroekonomi
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top