Pertanian Pangan Organik Butuh Dukungan Subsidi Pupuk

Kalangan petani di Jawa Barat menyarankan pemerintah mengalihkan sebagian subsidi pupuk bagi pertanian pangan organik.
Adi Ginanjar Maulana & Hedi Ardhia | 02 Maret 2016 17:21 WIB
Pertanian

Bisnis.com, BANDUNG - Kalangan petani di Jawa Barat menyarankan pemerintah mengalihkan sebagian subsidi pupuk bagi pertanian pangan organik.

Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar Entang Sastraatmadja mengatakan isu pengalihan subsidi pupuk oleh pemerintah sebaiknya melibatkan petani dan penelitian kondisi di lapangan.

Menurutnya, apabila sebagian subsidi pupuk dialihkan ke pertanian pangan organik, akan memiliki nilai tambah bagi petani. "Selama ini hasil produksi pangan organik cukup mahal di pasaran. Mayoritas bahkan berorientasi ekspor," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (2/3/2016).

Pengalihan subsidi tersebut antara lain untuk penyehatan kembali lahan pertanian yang saat ini sudah banyak terkontaminasi bahan kimia. Kondisi tersebut tentunya memerlukan anggaran besar untuk mengembalikan agar kondisi tanah menjadi semakin produktif.

"Pertanian organik itu jangan mengandung unsur kimia, jadi harus benar-benar terawat pemeliharaannya mulai dari kondisi tanah, penggunaan pupuk, hingga pada proses panen," katanya.

Di samping itu, pemerintah perlu terus mengembangkan benih hibrida untuk mendorong petani memulai garapan pertanian organik.

Menurutnya, selama ini keberadaan benih hibrida menghasilkan produksi yang berkualitas salah satunya padi. Bahkan, harga produksi pascapanen padi hibrida ini jauh lebih besar dibandingkan dengan yang biasa. "Benih hibrida ini harus terus dikembangkan karena saat ini kondisi musim selalu berubah-ubah," tuturnya.

Selain itu, pengalihan subsidi juga perlu direalisasikan melalui subsidi harga, agar petani menjadi pihak yang diuntungkan.

Dengan subsidi tersebut, pemerintah membeli produk pertanian dengan harga yang layak di tingkat petani, dan bisa menjualnya dengan harga yang terjangkau di masyarakat. "Dengan begitu petani lebih sejahtera, rakyat dapat harga murah," ujarnya.

Di lain pihak, Asosiasi Produsen dan Penjual Pupuk Jabar menilai pemerintah tidak serius dalam mendorong petani agar beralih dari pupuk kimia menjadi pupuk organik. Pasalnya, kondisi tanah di sejumlah sentra pertanian di Jabar sudah jenuh.

Ketua Asosiasi Produsen dan Penjual Pupuk Jabar Adang Hery Pratidy mengatakan tanah pertanian di Kabupaten Bandung, Majalengka dan Kuningan dianggap sudah tidak maksimal lagi untuk dijadikan areal bercocok tanam.

"Untuk mengatasi hal itu, petani harus didorong untuk menggunakan pupuk organik. Agar tanah bisa kembali subur dan bisa ditanami untuk segala macam komoditas," tegasnya.

Dia memperkirakan pemanfaatan pupuk organik di kalangan petani dalam negeri saat ini masih di bawah 10%. Kondisi tersebut, membuat penjualan pupuk organik pun sulit bersaing dengan pupuk kimia yang lebih digandrungi petani.

Saat ini pupuk organik disubsidi pemerintah Rp1.000 per kg, agar petani bisa mendapatkannya dengan harga terjangkau Rp500 per kg.

"Ada wacana pencabutan subsidi pupuk organik karena dianggap tidak bisa berjalan dan sedikit yang terserap. Hal ini terjadi karena pemda tidak gencar mengeedukasi petani," ujarnya.

 

Tag : pertanian organik
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top