Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hypermart dan Hero Optimis di 2016

PT Matahari Putra Prima Tbk. dan PT Hero Supermarket Tbk. masih optimistis memandang bisnis ritel perusahaan pada tahun ini, kendati realisasi hingga bulan ke sembilan tahun lalu mengalami koreksi.
Destyananda Helen
Destyananda Helen - Bisnis.com 21 Januari 2016  |  11:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Matahari Putra Prima Tbk. dan PT Hero Supermarket Tbk. masih optimistis memandang bisnis ritel perusahaan pada tahun ini, kendati realisasi hingga bulan ke sembilan tahun lalu mengalami koreksi.

Dari laporan keuangannya hingga kuartal III/2015, Matahari Putra Prima memang mencatatkan perolehan laba komprehensif periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp245,66 miliar. Namun, raihan tersebut terpantau turun 30,59% secara tahunan (y-o-y) dari Rp353,95 miliar di periode yang sama tahun lalu.

Penyebabnya, yakni peningkatan beban umum dan administrasi sebesar 12,75% y-o-y menjadi Rp1,32 triliun per September 2015. Kemudian, penghasilan lain-lain dan penghasilan keuangan pun ikut turun masing-masing sebesar 99,54% y-o-y dan 68,05% y-o-y.

Selain itu, beban keuangan perusahaan pun melonjak 61,37% y-o-y menjadi Rp23,27 miliar pada kuartal III/2015. Akibatnya, laba bersih terkoreksi meski penjualan bersih perusahaan naik 3,8% y-o-y menjadi Rp10,44 triliun.

Kendati sempat terkoreksi, pada tahun ini emiten yang membawahi jaringan ritel Hypermart tersebut meyakini kinerja perusahaan bakal membaik. “Sebab dalam jangka pendek kami tidak terlalu terpengaruh terhadap fluktuasi nilai tukar,” jelas Head of Public Relation Matahari Putra Prima Fernando Repi ketika dihubungi, Senin (18/1)

Hingga September tahun lalu, emiten bersandi saham MPPA ini telah mengoperasikan 285 toko yang berlokasi di 67 kota. Perusahaan mengklaim, selain armada tersebut, entitas ini juga memiliki posisi keuangan yang kuat akibat tak adanya pinjaman jangka panjang.

MPPA pun tercatat membawahi gerai Hypermart, Foodmart, Boston, dan SmartClub. Adapun, sebanyak 93,5% pendapatan MPPA disumbang dari Hypermart. Sementara Foodmart dan Boston menyumbang masing-masing sebesar 6,1% dan 0,4% ke pendapatan total MPPA.

Per kuartal III/2015, kinerja Hero Supermarket pun terkoreksi dengan mencatatkan rugi bersih bersih senilai Rp30,75 miliar atau melorot 158% y-o-y setelah sebelumnya mendulang untung bersih sebesar Rp53,01 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski direksi masih enggan menyampaikan realisasi kinerja pada  kuartal akhir tahun lalu, tapi perusahaan mengklaim kondisi tahun ini akan lebih baik. “Tahun ini proyeksi kami tentu lebih baik dibanding tahun lalu,” kata Direktur Independen Hero Supermarket Arief Istanto.

Presiden Direktur Hero Supermarket Stephane Deutsch mengatakan rugi bersih pada sembilan bulan pertama tahun lalu tersebut disebabkan marjin penjualan yang lebih rendah pada bisnis makanan dan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi. Penyebab lainnya, rinci dia, yakni akibat biaya pengelolaan inventaris dan program rasionalisasi gerai yang berdampak negatif pada profitabilitas perusahaan.

Analis Mandiri Sekuritas Matthew Wibowo mengatakan pada Januari 2016, aksi belanja masyarakat pada Januari umumnya lemah. Aksi tersebut diproyeksi baru akan menguat di Februari 2016 akibat adanya perayaan Tahun Baru China.

Peningkatan penjualan di periode berikutnya pun diprediksi baru terjadi pada kuartal II/2015. “Karena ada hari raya Lebaran yang maju ke kuartal dua dan dampak penyerapan belanja pemerintah,” tutur Matthew.

Untuk ekspansi, Matthew menilai kalangan emiten ritel dan konsumer masih akan meninjau situasi di paruh pertama tahun ini untuk merealisasikan rencana bisnis. Jika pun para entitas tersebut ekspansif, tambahnya, masih perlu banyak perbaikan internal perusahaan agar kinerja lebih positif.

 Apalagi, sebut Matthew, risiko dari sisi fluktuasi nilai tukar pun masih membayangi sektor industri ini, terutama pada emiten yang berkaitan erat dengan produk impor. “Mungkin mereka harus memperbaiki di market strategi, sistem inventory, dan strategi harga [untuk perbaikan perolehan laba],” papar Matthew.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hero supermarket hypermart
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top