Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Benih Bersertifikat Belum Tentu Berkualitas

Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) menyatakan tidak jarang para petani di Tanah Air lebih memilih menanam benih unggul hasil tangkaran kelompok taninya daripada produk bersertifikat dari pemerintah.nn
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 04 Desember 2015  |  12:48 WIB

Bisnis.com, TANGERANG--Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) menyatakan tidak jarang para petani di Tanah Air lebih memilih menanam benih unggul hasil tangkaran kelompok taninya daripada produk bersertifikat dari pemerintah.

"Meski bersertifikat di dalamnya tetap saja kualitas benihnya kurang bagus. Isi dan bungkus tidak sesuai,” kata Dwi Andreas Santosa, Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) kepada Bisnis.com, Jumat (4/12/2015).

Kata Kementerian Pertanian (Kementan), benih varietas unggul bersertifikat punya peran strategis dalam peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan, seperti padi. Tapi hal penggunaan benih ini harus ditunjang pemberian pupuk berimbang secara konsisten.

Bicara soal produktivitas lahan pertanian tidak terlepas dari semaian bermutu baik alias benih berkualitas. Tapi yang dimaksud bukanlah penggunaan benih tani yang berserfitikat melainkan benih unggul secara umum.

Porsi benih mencapai 60% dalam keberhasilan usaha tani. Tanpa mengurangi perhatian atas pentingnya benih bermutu, tidak sedikit petani lebih memilih benih unggul hasil jaringan taninya daripada benih bersubsidi dari pemerintah meskipun bersertifikat.

Dwi menyatakan banyak jaringan tani yang betul-betul rajin memproduksi benih unggul, sehingga kualitasnya tidak kalah bahkan lebih baik daripada produk yang disertifikasi. “Di jaringan tani kami banyak, hampir separuh dari benih pemerintah tidak ditanam,” ujarnya.

Sepanjang tahun ini pemerintah mengalokasikan Rp939,4 miliar untuk benih bersubsidi. Ini dibagi empat, yakni untuk padi inbrida 98.500 ton seluas 3,9 juta ha dan padi hibrida 1.500 ton untuk 100.000 ha. Ada pula 1.500 ton jagung hibrida dengan lahan 100.000 ha dan 15.000 ton benih kedelai untuk area seluas 300.000 ha.

Penyaluran benih tersebut dimaksudkan pemerintah untuk mengurangi beban biaya produksi yang ditanggung petani. Dengan demikian penghasilan mereka bertambah sehingga daya belinya meningkat. Melalui suplai benih subsidi inbrida, misalnya, petani cuma perlu bayar Rp3.050 per kg padahal harga nonsubsidinya mencapai Rp9.000 per kg.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan penyaluran benih padi dari pemerintah memang tidak efektif. Ini sejalan dengan yang dikemukakan AB2TI bahwa dua BUMN yang ditunjuk, SHS dan Pertani, tidak dipercaya petani.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

benih
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top