KTT PERUBAHAN IKLIM: Pola Kemitraan Asian Agri Untungkan Petani Plasma

Pengelolaan perkebunan sawit di Indonesia dengan pola kemitraan inti plasma, antara petani dengan korporasi terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani sawit di sejumlah daerah serta membantu mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Stefanus Arief Setiaji | 01 Desember 2015 13:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pengelolaan perkebunan sawit di Indonesia dengan pola kemitraan inti plasma, antara petani dengan korporasi terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani sawit di sejumlah daerah serta membantu mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Managing Director Asian Agri Kelvin Tio dalam paparannya melalui keterangan resmi, Selasa (1/12/2015) menuturkan rata-rata tingkat pendapatan petani sawit yang bermitra dengan Asian Agri lebih tinggi dari pendapatan per kapita maupun upah minimum di tingkat provinsi.

Perusahaan itu menggambarkan selama membangun kemitraan, petani plasma binaan perusahaan itu mengantongi pendapatan sekitar Rp5,5 juta. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan dengan upah minimum regional yang berkisar Rp1,7 juta maupun pendapatan domestik bruto sekitar Rp3,18 juta.

Melihat keberhasilan itu, dia menilai pola kemitraan inti-plasma dalam pengembangan industri sawit di Tanah Air perlu terus dikembangkan. Selain bermanfaat secara ekonomi, program kemitraan mampu memstikan pengawasan yang lebih baik terhadap dampak lingkungan..

Saat ini, berdasarkan data perusahaan masih ada 42% dari total 11 juta hektare lahan sawit yang dikelola oleh para petani. Sebagian dari lahan sawit yang dikelola petani itu dikembangkan dengan pola kemitraan, sedangkan lainnya dikelola secara mandiri oleh petani.

Oleh sebab itu, Asian Agri berupaya untuk menjalin kemitraan dengan lebih banyak petani dalam pengembangan bisnis sawit. Selain bertujuan meningkatkan derajat kesejahteraan petani, pola kemitraan dapat menjaga tata kelola perkebunan yang menjunjung tinggi aspek perlindungan lingkungan sehingga bermanfaat dalam mengurangi pemanasan global.

Tag : sawit, asian agri, perubahan iklim
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top