Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produsen Mainan Anak Tradisional Kering Pesanan

Pelaku industri mainan anak edukatif dan tradisional harus jemput bola mencari pembeli akibat pelemahan pasar dan ketidakpastian ekonomi global yang menyedot omset hingga 30% pada semester I/2015 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 07 Agustus 2015  |  16:39 WIB
Produsen Mainan Anak Tradisional Kering Pesanan
Mainan anak edukatif. - mainanak.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku industri mainan anak edukatif dan tradisional harus jemput bola mencari pembeli akibat pelemahan pasar dan ketidakpastian ekonomi global yang memangkas omzet hingga 30% pada semester I/2015 (y-o-y).

Ketua Umum Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (Apmeti) Danang Sasongko mengatakan stok barang digudang tidak banyak keluar, dan hanya terjual rerata 3.000 unit per bulan selama semester I/2015.

Kondisi tersebut, menurutnya, memaksa produsen jemput bola mencari pasar baru, yang tidak terjadi pada tahun sebelumnya.

“Tahun lalu saja, pada periode yang sama [semester I/2014] terjual rerata 5.000 unit. Sebelum lebaran dan saat liburan sekolah kemarin juga tidak terasa peningkatan pasarnya,” tuturnya, Kamis (6/8/2015) malam.

Data Apmeti menunjukkan dari total 12 produsen mainan edukatif di bawah naungan asosiasi, menjual produknya dengan rerata harga Rp70.000 per unit. Dengan merosotnya pasar hingga 40%, produsen terpaksa mengurangi kapasitas produksinya.

“Laporan dari pedagang di Pasar Gembrong turun, di Bogor juga demikian, sehingga mau tidak mau produsen menurunkan produksi. Sampai akhir tahun sepertinya terus begini,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mainan Anak-anak
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top