Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERTAMINA: RFCC Rampung, Impor BBM Berkurang 6 Juta Barel

PT Pertamina (Persero) memprediksi impor bensin akan berkurang sebesar enam juta barel sepanjang tahun ini setelah proyek Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) beroperasi penuh pada Agustus 2015.
Fauzul Muna
Fauzul Muna - Bisnis.com 08 Mei 2015  |  13:23 WIB
Rencana impor BBM sepanjang tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu.  - Bisnis.com
Rencana impor BBM sepanjang tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) memprediksi impor bensin akan berkurang 6  juta barel sepanjang tahun ini, setelah proyek Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) beroperasi penuh pada Agustus 2015.

Vice President Integrated Supply Chain Pertamina Daniel S. Purba mengatakan berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2015, impor bensin perseroan mencapai 136,075 juta barel sepanjang tahun ini. Rinciannya, impor Pertamax RON 92 sebesar 8,027 juta barel dan Premium RON 88 sebesar 128,048 juta barel.

Besaran impor tersebut diperkirakan akan berkurang sebesar enam juta barel setelah RFCC selesai pada Juni 2015 dan beroperasi penuh pada Agustus 2015. "Semester II RFCC jalan maka impor turun satu juta kiloliter [enam juta barel]," katanya di Jakarta, Kamis (7/5/2015).

Seperti diketahui, RFCC merupakan proyek peningkatan kapasitas Kilang Cilacap yang saat ini berkapasitas 350.000 barel per hari. Sebanyak 45% produksi merupakan Premium atau sekitar 160.000 bph.

Setelah RFCC rampung, akan ada tambahan kapasitas produksi 62.000 bph. Rinciannya, produksi propylene 5.177 barrel per stream day (bpsd), LPG 11.625 bpsd, C5 + gasoline 37.586 bph, dan LCO + DCO 12.851 bpsd.

Proyek RFCC bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pencampuran kilang RON 92 sekaligus mengurangi impor HOMC (high octane mogas component). Selain itu, RFCC juga bertujuan untuk meningkatkan produksi LPG dan propylene.

"RFCC akan meningkatkan marjin kilang," ungkap Direktur Pengolahan Pertamina Rahmad Hardadi.

TERLAMBAT

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menambahkan proyek RFCC terlambat dari jadwal. RFCC dimulai pada akhir 2011 dengan biaya investasi US$850 juta atau sekitar Rp9 hingga Rp10 triliun.

Seharusnya proyek itu rampung pada Desember 2014, namun terlambat sehingga baru bisa beroperasi penuh pada Agustus 2015. Bahkan, awalnya proyek terlambat hingga Desember 2015.

Namun, ungkapnya, Direksi Pertamina meminta proyek dipercepat sehingga bisa rampung pada pertengahan tahun ini. "Sebenarnya agak telat," jelasnya.

Setelah RFCC selesai, Pertamina juga akan menggarap proyek Langit Biru Cilacap yang dimulai pada Oktober 2015. Proyek tersebut akan memberikan tambahan produksi sebesar 30.000 bph. Masa konstruksi diperkirakan memakan waktu 2,5 tahun.

Rencana impor BBM sepanjang tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. Sepanjang 2014, realisasi impor produk kilang mencapai 154,989 juta barel. Rinciannya, impor Pertamax 1,309 juta barel, Premium 115,4 juta barel, avtur 6,149 juta barel, dan solar 32,140 juta barel.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kilang minyak impor bbm
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top