Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BAHAN BAKAR NABATI (BBN), DPR Setujui Usul Kenaikan Subsidi

Komisi VII DPR RI menyetujui usulan Kementerian ESDM untuk menaikkan subsidi bahan bakar nabati khusus untuk campuran ke bahan bakar minyak bersubsidi.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 05 Februari 2015  |  05:25 WIB
Kepastian harga BBN diharapkan bisa mendorong industri bahan bakar nabati untuk lebih maju.  - Bisnis.com
Kepastian harga BBN diharapkan bisa mendorong industri bahan bakar nabati untuk lebih maju. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Komisi VII DPR RI menyetujui usulan Kementerian ESDM untuk menaikkan subsidi bahan bakar nabati khusus untuk campuran ke bahan bakar minyak bersubsidi.

Ketua Komisi VII DPR RI Kardaya Warnika dalam rapat asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (RAPBN-P) 2015 di Jakarta, Rabu (4/2/2015) malam, mengatakan subsidi BBN biodiesel disetujui Rp4.000 per liter sedangkan BBN bioethanol Rp3.000 per liter.

"Kalau untuk ke BBM nonsubsidi atau non PSO (public service obligation) tidak disetujui, tapi kami setujui untuk yang PSO atau subsidi," katanya. Subsidi BBN mengalami kenaikan dari APBN 2015 yang mematok harga biodiesel Rp1.500 per liter dan bioethanol Rp2.000 per liter.

Pada awalnya, Kementerian ESDM mengusulkan subsidi BBN jenis biodiesel sebesar Rp5.000 per liter, sedangkan bioetanol sebesar Rp3.000 per liter.

Usulan tersebut diambil berdasarkan simulasi dengan Mean of Platts Singapore (MOPS) solar sebesar US$30 -- US$125 per barel dengan kurs rupiah terhadap dolar AS dalam asumsi makro RAPBN-P 2015 sebesar Rp12.500.

Berdasarkan simulasi tersebut, dengan prediksi kisaran MOPS solar untuk 2015, maka besaran alokasi subsidi secara rata-rata adalah Rp4.154 per liter. Untuk mengakomodasi kondisi MOPS dan HIP biodiesel, maka pemerintah mengajukan besaran alokasi sebesar Rp5.000 per liter.

"Subsidi Rp5.000 itu terlalu besar, padahal patokan di pasar global Rp4.000. Makanya kami sepakati subsidi BBN biodiesel jadi Rp4.000, turun dari harga awal yang diusulkan. Sementara untuk bioethanol kami sepakati di Rp3.000 per liter," kata Kardaya.

Menteri ESDM Sudirman Said, dalam kesempatan yang sama, mengatakan pemerintah punya dua tujuan dalam usulan meningkatkan subsidi BBN. "Pertama adalah diversifikasi energi primer dan kedua adalah bagaimana kita memberi sinyal yang jelas akan pengaturan harga (BBN)," katanya.

Sudirman menjelaskan diversifikasi energi primer harus segera dilakukan untuk mengantisipasi ketika harga BBM nanti kembali di titik normal. Terlebih, pemerintah juga sudah menargetkan 30% penggunaan BBN pada 2025 dalam kebijakan energi nasional.

"Diversifikasi energi primer harus dilakukan juga supaya kita tidak bergantung terus pada energi fosil. Diversifikasi memang mahal, tetapi akan sama mahalnya saat harga minyak tinggi yang sampai US$100 per barel," katanya.

Sementara itu kepastian harga BBN diharapkan bisa mendorong industri bahan bakar nabati untuk lebih maju. "Insentif yang cukup menarik kami berikan kepada investor karena kita harus beri sinyak jelas. Kalau harganya menarik, industrinya tentu bisa maju," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bbn Subsidi BBN

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top