Industri Manufaktur 2014 Naik Tipis

Produksi industri manufaktur besar dan sedang bertumbuh 4,74% pada 2014 disumbang oleh tiga sektor terbesar, a.l. industri makanan, farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional serta industri peralatan listrik.
David Eka Issetiabudi | 02 Februari 2015 20:09 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Produksi industri manufaktur besar dan sedang bertumbuh 4,74% pada 2014 disumbang oleh tiga sektor terbesar, a.l. industri makanan, farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional serta industri peralatan listrik. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan produksi manufaktur 2014 untuk industri makanan sebesar 10,56%, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional 9,92%, dan industri peralatan listrik 9,84%.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan pendorong utama pertumbuhan produksi manufaktur 2014 adalah sektor konsumsi mengingat kebutuhan tinggi disektor tersebut.

“Kalau yang unggul itu sektor makanan memang tidak aneh, karena memang konsumsi kita besar. Mengenai pertumbuhan produksi industri farmasi juga perlu dipastikan apakah benar, hadirnya Jaminan Kesehatan Nasional [JKN] menjadi pendorongnya,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.com, Senin (2/2/2015).

Berbeda dengan pertumbuhan produksi industri manufaktur 2013, wajah tiga sektor teratas diduduki oleh industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, 11,48%, industri barang logam, bukan mesin dan peralatannya 11,37%, dan industri makanan 10,77%.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan faktor utama yang mendorong produksi industri makanan adalah pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, pertumbuhan produksi industri tahun akan mengalami hasil serupa, seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,7%.

“Yang perlu diwaspadai kita sangat tinggi impor bahan bakunya, walaupun sekarang harga komoditas [lada, kopi, kakao] banyak yang menurun hal itu tidak berpengaruh. Karena kita tidak memiliki kekuatan industri bahan baku dan intermediate,” katanya.

Dia menambahkan minimnya industri bahan baku, akan menyulitkan ketika harga komoditas memuncak. Menurutnya, dengan pertumbuhan industri makanan yang terus menanjak sudah sepantasnya industri bahan baku dihadirkan lebih masif.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur, produksi

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top