Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bulog Dikritisi DPR, Mental Petugas Penyalur Raskin Perlu Direvolusi

Komisi VI DPR mengkritisi Perum Bulog yang menyalurkan beras untuk warga miskin (raskin) di bawah standar kualitas yang ditentukan yaitu beras kualitas medium.
Redaksi
Redaksi - Bisnis.com 26 Januari 2015  |  19:49 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Komisi VI DPR mengkritisi Perum Bulog yang menyalurkan beras untuk warga miskin (raskin) di bawah standar kualitas yang ditentukan yaitu beras kualitas medium.

"Penyebab beras raskin berkualitas buruk antara lain karena terlalu lama disimpan di gudang Bulog," kata Ketua Komisi VI DPR, Achmad Hafisz Tohir, di sela Rapat Panja Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan Perum Bulog, di Gedung MPR/DPR, Senin (26/1).

Oleh karena itu, sambungnya, Bulog harus memperbaiki kualitas sistem pergudangan dan termasuk sumber daya manusia di daerah.

"Saya menemukan di daerah, beras raskin umumnya banyak kutu, menir dan pecah-pecah."

Selain itu, petugas gudang Bulog juga tidak memiliki pengetahuan yang memadai dalam mengelola stok beras sehingga terjadi "broken" (pecah-pecah) dan kadar air yang tinggi menyebabkan beras rusak.

"Perlu revolusi mental juga bagi petugas gudang Bulog, sehingga kualitas raskin tetap bagus," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Direktur Utama Bulog Lenny Sugihat mengatakan menerima kritisi dari Komisi VI, namun buruknya kualitas raskin juga disebabkan berbagai hal.

Ia menjelaskan, kualitas raskin sangat tergantung pada produksi. Bibit padi yang berbeda atau tidak seragam dapat menyebabkan kualitas beras menurun demikian juga pada tingkat penggilingan.

"Mesin penggilingan sudah tua juga dapat menyebabkan padi yang digiling menjadi pecah-pecah. Di penggilingan yang tidak higienis juga mempengaruhi kualitas beras," katanya.

Demikian juga ketika memasuki tahap penjemuran, distribusi sangat berpotensi memperburuk kualitas beras.

"Kami tentu berusaha mengurangi atau mempertahankan kualitas padi. Indonesia masuk dalam negara tropis yang tingkat kelembabannya tinggi, jadi potensi membuat beras di dalam gudang cepat basah," ujarnya.

Meski begitu klaim Lenny, Bulog memiliki sistem teknologi pergudangan yang sudah bagus untuk menghilangkan kutu digunakan "treatment", teknologi vacum serta menghindari penggunaan bahan kimia.

"Kutu beras tidak bisa dihindari, tapi diminimalisasi karena beras di gudang Bulog bisa mencapai 3,2 juta ton dalam periode tertentu," ujarnya.

Prinsipnya kata Lenny yang baru menjabat menjadi Dirut Bulog pada awal Januari 2015 ini, Bulog masih sebatas pengawalan pada pergudangan dan distribusi, sedangkan pada tataran produksi meliputi pihak lain seperti Kementerian Pertanian mulai dari pembibitan, pola penanaman hingga panen.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bulog

Sumber : Antara

Editor : Bambang Supriyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top