Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SMELTER FREEPORT: Pemerintah Melunak...Ada Apa Dengan Sudirman? Ini Penjelasannya

Pemerintah mulai melunak kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) meskipun progres pembangunan smelter masih sebatas penandatanganan nota kesepahaman pembebasan lahan.
Fauzul Muna
Fauzul Muna - Bisnis.com 23 Januari 2015  |  02:21 WIB
Ilustrasi: Lokasi tambang Freeport
Ilustrasi: Lokasi tambang Freeport

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah mulai melunak kepada PT Freeport Indonesia (PTFI) meskipun progres pembangunan smelter masih sebatas penandatanganan nota kesepahaman pembebasan lahan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengaku telah mendengar Freeport menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) pembebasan lahan dengan PT Petrokimia Gresik yang nantinya digunakan untuk smelter.

Padahal, dalam MoU yang diteken antara pemerintah dan Freeport akhir Juli lalu mensyaratkan progres pembangunan smelter sebanyak 60% dengan indikator terselesaikannya pembebasan lahan sebelum 24 Januari 2015.

MoU tersebut menjadi landasan diterbitkannya izin ekspor konsentrat bagi Freeport.

Menurutnya, keputusan Freeport yang hanya menandatangani MoU tanpa melakukan pembebasan lahan secara langsung pasti memiliki latar belakang tertentu.

Karena itu, dia memerintahkan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara R. Sukhyar untuk berkomunikasi dengan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.

Jika penjelasan Freeport masuk akal, menurutnya, pemerintah akan tetap mengizinkan Freeport melakukan ekspor konsentrat.

“Bagaimanapun pemerintah berkepentingan agar operasi Freeport tetap jalan,” katanya seusai Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR di Jakarta, Kamis (22/1/2015).

Pasalnya, keberadaan Freeport memberikan dampak pada penyediaan lapangan kerja pada ribuan orang.

Selain itu, terdapat beberapa pihak yang bergantung pada operasi Freeport seperti kontraktor, industri pendukung, dan pemerintah daerah.

Di luar itu, Sudirman mengungkapkan penghargaannya terhadap Freeport yang telah memberikan jaminan keseriusan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral sebesar US$115 juta.

“Kalau ternyata bisa ketemu solusi, kami menghargai,” ungkapnya.

Seperti diketahui, pada Selasa lalu Sudirman Said menyatakan kekecewaannya terhadap Freeport karena tidak ada progres dalam pembangunan smelter.

Dia juga mengancam akan membekukan izin ekspor Freeport jika tetap tidak ada progres 60% sampai 24 Januari besok.

Sudirman meralat bahwa yang diucapkannya tempo lalu bukan ancaman. Dia hanya mengingatkan anak usaha Freepot McMoRan Inc. untuk memenuhi komitmen yang telah disepakati.

“Ini bukan soal ngancem-ngancem, tapi soal mengingatkan ada komitmen yang harus dipenuhi. Saya senang kalau ternyata memang sudah ada progres atau perkembangan yang baik,” tegasnya.

Lebih jauh, ia juga mengimbau Freeport untuk mempercepat progres pembangunansmelter yang dijanjikan agar tidak terkesan ditekan terlebih dahulu baru merespons.

Menurutnya, pembangunan smelter merupakan persoalan jangka panjang sehingga membutuhkan kepastian.

Karena itu, dia selalu meminta agar manajemen Freeport Indonesia diberi otoritas penuh agar dapat berdialog tanpa perlu menunggu keputusan dari induk perusahaan di Amerika Serikat.

Sebelumnya, Sukhyar pernah meminta Freeport tidak hanya membangun smelter di Gresik saja namun juga di Papua.

Mengenai rencana tersebut, Sudirman memahami membangun smelter di Papua masih sulit dilakukan karena infrastruktur masih belum mendukung. Karena itu, dia menurunkan keinginannya kepada Freeport.

“Kalaupun tidak smelter langsung ya industri ikutan, itu yang saya harapkan,” jelasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Freeport
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top