Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI ALKES 2015: Pengusaha Pesimis Konsumsi Bisa Tembus Rp10 triliun

Ketua Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan pesimis kinerja menembus Rp10 triliun pada 2015 untuk konsumsi produk material modal seiring dengan minimnya permintaan rumah sakit milik pemerintah.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 29 Desember 2014  |  20:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Ketua Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan pesimis kinerja menembus Rp10 triliun pada 2015 untuk konsumsi produk material modal seiring dengan minimnya permintaan rumah sakit milik pemerintah.

Ketua Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan (Gakeslab) Titah Sihdjati Riadhie mengatakan proyeksi kinerja pada tahun depan mengacu pada realisasi kinerja konsumsi alat kesehatan (alkes) material modal senilai Rp10 triliun pada 2013.

Menurutnya, kinerja pada tahun ini justru merosot tajam hingga 50% atau hanya berkisar Rp3 triliun – Rp5 triliun. Adapun jenis alkes material modal a.l USG, Pasien Monitor, X-Ray unit, autoclave, sterilisator kering, hematologi, fotometer dan lainnya.

“Harusnya dengan peningkatan puskesmas menjadi rumah sakit tipe B pembelian alkes material modal meningkat, tetapi entah mengapa kinerjanya tidak menunjukkan pertumbuhan. Dari nilai Rp10 triliun, industri dalam negeri hanya menikmati 10% saja, sisanya dipenuhi produk impor,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Senin (29/12).

Titah mengatakan industri alkes nasional seperti anak tiri yang tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Dia mencontohkan kondisi yang berbeda seperti di Malaysia, pemerintahnya mengeluarkan aturan mengenai kewajiban mengkonsumsi produk alkes dalam negeri. Mengacu pada hal tersebut, Gakeslab mengharapkan kebijakan serupa dikeluarkan pemerintah untuk meumbuhkembangkan industri dalam negeri.

Lesunya indutri alkes dan gakeslab nasional ditandai oleh maraknya industri dalam negeri yang memilih menjadi trader dari produk impor. Menurutnya, kalangan dunia usaha lebih mendapatkan keuntungan dengan menjadi importir alkes. “Sekarang lebih baik impor, dan dimodifikasi sedikit sudah dapat untung. Sementara jika mengembangkan produk lokal, banyak modal yang harus dikeluarkan, setelah syarat sudah terpenuhi ternyata pemerintah juga tidak menyerap produk kami,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alkes
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top