Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BUDI DAYA LELE DAN PATIN: Butuh Sentra Benih di Luar Jawa

Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia mendorong pembangunan sentra benih patin dan lele di luar Pulau Jawa.
Ihda Fadila
Ihda Fadila - Bisnis.com 17 Oktober 2014  |  20:50 WIB
BUDI DAYA LELE DAN PATIN: Butuh Sentra Benih di Luar Jawa
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia mendorong pembangunan sentra benih patin dan lele di luar Pulau Jawa.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) Azam Bachur mengatakan budi daya patin dan lele di Pulau Jawa sudah jenuh sehingga perlu didorong peningkatan budidayanya di luar Pulau Jawa.

"Membenihkan lebih sulit dari pada membesarkan. Kalau di Kalimantan cari benih itu susah. Benih lele di Kalimantan Selatan masih dari Jogja dan Surabaya," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (17/10/2014).

Azam menambahkan pengembangan wilayah-wilayah baru merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan lele dan patin yang terus meningkat. Menurutnya, pasar lele yang dulu hanya ada di Jawa, kini sudah menyebar ke berbagai daerah, seperti Sumatera dan Kalimantan.

"Dengan membangun sentra benih di wilayah-wilayah tersebut, pengembangan budi daya patin dan lele akan lebih mudah dan efisien," tuturnya.

Azam juga mengatakan sentra benih patin hanya ada di Jawa Barat. Bahkan, menurutnya, usaha budidaya patin di Jawa Timur pun masih memperoleh benih dari wilayah itu.

Menurut Azam, pembuatan sentra benih patin dan lele memang tidak mudah. Selama ini, kendalanya adalah sumber daya manusia (SDM) dan ketersediaan pakan alaminya.

"Kalau membesarkankanmudah. Kalau benih itu harus diteliti, dua sampai tiga malam tidak tidur, harus terus dikasih makan. Agak jungkir balik," katanya.

Dia menjelaskan pakan alami patin dan lele adalah cacing. Khusus untuk patin, pakan alaminya sebanyak dua macam, yaitu atermia dan pellet.

"Kalau lele dari awal langsung makan cacing. Kalau patin itu atermia, yang dari luar negeri, impor. Empat hari setelah itu baru cacing, itu pellet, bahannya dari cacing sutera," ujarnya.

Cacing sutera, lanjut Azam, hanya ditemui di wilayah tertentu. Biasanya cacing itu diambil dari pinggiran sungai yang airnya tenang. Dia mencontohkan salah satu industri cacing sutera ini mengambil cacing tersebut dari pinggir kali Cisadane yang ada di Tangerang.

Dia menambahkan jumlah usaha budidaya lele meningkat selama lima tahun terakhir hingga saat ini telah mencapai 500.000 pelaku. Menurutnya, budidaya lele dulu hanya ada di Pulau Jawa dengan jumlah sepertiga dari total pelaku usaha yang ada sekarang.

Saat ini, jumlah pelaku usaha lele sudah tersebar di berbagai wilayah, seperti Sumatera, Bali, NTB, Sulawesi, dan lain-lain. Persentasenya 50% ada di Pulau Jawa dan 50% lainnya tersebar di luar Pulau Jawa. "Kalau patin masih sekitar 20.000-an pelaku usahanya. Ini masih kurang. Kita baru bisa mengisi kebutuhan dalam negeri, belum ekspor," ujarnya.

Berdasarkan data yang tercatat di Direktorat Jenderal Budidaya Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi catfish (patin dan lele) pada 2013 sebesar 1,1 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 0,7 juta tonnya merupakan produksi lele, dan 0,4 juta ton adalah patin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ikan lele ikan patin
Editor : Nurbaiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top