Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ALAT KESEHATAN: Kontribusi Produksi Domestik Hanya 20%

Pemerintah diminta menggunakan produk alat kesehatan (alkes) dalam negeri, daripada terus membeli produk luar negeri. Kontribusi industri alkes dalam negeri hanya menyumbang 20%, dari total kebutuhan tahunan sekitar Rp12 triliun pada 2013.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 26 Mei 2014  |  00:54 WIB
Alat kesehatan. Kontribusi produksi dalam negeri hanya 20% - JIBI
Alat kesehatan. Kontribusi produksi dalam negeri hanya 20% - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah diminta menggunakan produk alat kesehatan (alkes) dalam negeri, daripada terus membeli produk impor.

Kontribusi industri alkes dalam negeri hanya menyumbang 20%, dari total kebutuhan tahunan sekitar Rp12 triliun pada 2013.

Pemenuhan produk alkes dalam negeri mampu mencapai 45% jika pemerintah berpihak pada pertumbuhan industri dalam negeri. Konsumen yang mayoritas dari pemerintah lebih memilih produk impor, walaupun komponen pendukungnya ada di Indonesia.

Titah Sihdjati Riadhie, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab), mengatakan saat ini produk dalam negeri bisa bersaing dengan produk impor.

Hanya saja permasalahan harga yang lebih murah dan beberapa stigma mengenai kualitas barang lokal menjadi penghambatnya.

“Keberpihakan pemerintah pada industri dalam negeri masih minim. Keberpihakan yang minim itu saja baru-baru ini dimulai, bukan dari dulu,” tuturnya kepada Bisnis.com, Minggu (25/5/2014).

Dirinya mengatakan jika industri alkes tiap tahunnya stagnan tanpa pertumbuhan. Keberadaan 25 pabrik alkes dianggap tidak berkontribusi dalam konsumsi rumah sakit/ klinik baik negeri maupun swasta nasional. Tempat tidur, stetoskop, tensimeter merupakan produk yang sudah mampu bersaing dengan produk impor. Hanya saja hingga kini, menurutnya, pemerintah lebih mudah jatuh hati dengan produk impor, terutama dari China.

“Malu lah, kalau kotak sabun juga harus impor. Tapi begitulah adanya, produk luar dianggap tetap lebih mentereng,” katanya

Dirinya mengharapkan dengan menggunakan e-catalog proses pengadaan akan menguntungkan industri lokal. Belum lagi dengan regulasi mengenai barang impor dan SNI, akan banyak mendukung majunya industri alkes nasional.

Titah menambahkan yang terpenting adalah kepatuhan pemerintah terhadap regulasi yang mereka terbitkan. Banyak regulasi yang mengarah pada penguatan industri nasional, tetapi implementasi di lapangan masih minim. Menurutnya jika pemerintah tidak fokus pada produk lokal maka akan banyak pabrik alkes sulit bersaing dengan produk asing, yang berujung tutupnya pabrik tersebut.

“Kemandirian negara tidak ada, apalagi di bidang industri alkes. Jangan kaget kalau akhirnya kita melongo karena harga di luar sana tiba-tiba melonjak,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri farmasi alkes
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top