Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IMF: Dosis Pengetatan Moneter BI Dinilai Masih Relevan

International Monetary Fund (IMF) menilai dosis kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) masih relevan dengan ketidakpastian ekonomi global saat ini.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 12 Mei 2014  |  19:44 WIB
Bank Indonesia - Bisnis.com
Bank Indonesia - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - International Monetary Fund (IMF) menilai dosis kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) masih relevan dengan ketidakpastian ekonomi global saat ini.

Benedict Bingham, Senior Resident Representative IMF untuk Indonesia, mengatakan kebijakan pengetatan moneter terbukti mampu meredam ketidakstabilan ekonomi, terutama tingginya inflasi dan fleksibilitas nilai tukar, setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun lalu.

“Perekonomian Asia, khususnya Indonesia, India, dan Thailand masih memerlukan kebijakan moneter yang ketat untuk meredam tingginya inflasi. Bahkan ketika kondisi neraca transaksi berjalan mulai membaik,” tambahnya di Jakarta, Senin (12/5/2014).

Bingham memproyeksikan inflasi Indonesia hingga akhir tahun ini mencapai 5,3%, jika tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintahan yang baru.

IMF sendiri memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 5,4% pada tahun ini dan 5,8% pada 2015. Meskipun dirinya mengakui pelarangan ekspor mineral memiliki kontribusi dalam memangkas pertumbuhan ekonomi, tetapi Bingham optimistis net ekspor mulai menguat tahun mendatang.

“Indonesia perlu mendiversifikasi negara tujuan ekspor, mengingat adanya perlambatan ekonomi di China dan Jepang yang merupakan mitra dagan terbesar Indonesia,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

imf pertumbuhan ekonomi indonesia
Editor : Sepudin Zuhri

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top