Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Situasi Politik Perdagangan Luar Negeri Tekan Ekspor Karet

Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengklaim produktivitas karet di kawasan ini mengalami peningkatan sepanjang 2013.
Adi Ginanjar Maulana/Dimas Waradhitya Nugraha
Adi Ginanjar Maulana/Dimas Waradhitya Nugraha - Bisnis.com 22 April 2014  |  15:29 WIB
Petani sedang menyadap getah karet - JIBI
Petani sedang menyadap getah karet - JIBI

Bisnis.com, BANDUNG - Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengklaim produktivitas karet di kawasan ini mengalami peningkatan sepanjang 2013.

Kepala Bidang Produksi dan Pengolahan Usaha Perkebunan Disbun Jabar,Yayan Cahya Permana mengatakan peningkatan produksi dalam dua tahun terakhir sebesar 3,32% dari 64.059 ton di tahun 2012 menjadi 66.191 ton di tahun 2013.

"Estimasi kami di tahun 2014 jumlah produksi akan kembali meningkat di angka 67.221 ton," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (22/4/2014).

Menurutnya, jika dibandingkan dengan provinsi lain di Sumatera atau Kalimantan, Jawa Barat memang tidak menyumbang dampak signifikan terhadap total produksi nasional.

Namun produksi nasional tetap turut mengalami peningkatan karena produksi karet di provinsi lain pun meningkat.

Menurut data yang dihimpun Disbun Jabar, produksi karet nasional meningkat 3,16% dalam dua tahun terakhir. Tahun 2012 produksi karet nasional sebanyak 3.012.254 ton dan tahun 2013 menjadi 3.107.544 ton.

Yayan mencurigai penurunan jumlah ekspor karet dikarenakan permainan politik perdagangan. Karena selain Indonesia, di kawasan Asia Tenggara sendiri pasar karet juga dikendalikan oleh Malaysia dan Singapura.

"Masing-masing negara memiliki regulasi terhadap kuota ekspor, dan ketiga negara pasti melakukan konsolidasi dalam perdagangan internasional," ungkap Yayan.

Disinggung mengenai industri, Yayan mengaku Disbun Jabar telah melakukan pembinaan kepada para petani karet di Jawa Barat untuk mengolah getah karet menjadi karet sheet sebelum dijual.

Jika getah karet hanya dihargai sekitar Rp7.125 per kilogram, karet sheet bisa berharga Rp25.000 per kilogram.

"Hampir seluruh petani karet kini menjual produknya ke industri dalam bentuk karet sheet, hal ini jelas meningkatkan kesejahteraan petani karet," ujar Yayan.

Penasihat Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Jawa Barat Iyus Supriatna mengatakan produktivitas tanaman karet milik petani di kawasan ini masih tergolong rendah yakni 1 ton per ha per tahun, dibandingkan produsen karet di dunia seperti Malaysia dan Thailand yang mencapai 1,5-1,8 ton per ha per tahun.

Dia menjelaskan rendahnya produktivitas tanaman karet karena penggunaan benih yang tidak unggul serta pola penyadapan yang masih tradisional.

“Selama ini petani tidak banyak menguasai teknik budi daya karet, sehingga menyebabkan rendahnya tingkat produktivitas," katanya.

Untuk menggenjot produktivitas pemerintah harus memberi sentuhan teknologi terpat guna agar produktivitas karet mencapai hasil yang maksimal seperti Thailand dan Malaysia.

"Pemerintah berperan penting untuk menggenjot produktivitas karet dalam negeri," ujarnya

Luas lahan perkebunan di Jabar pada tahun 2012 mencapai 66.368 hektare dengan jumlah luas lahan mencapai 55.750 ha.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor karet
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top