Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pendapatan Perkapita Indonesia: Tahun 2030 Bisa Capai US$16.618, Ini Syaratnya

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan Indonesia masih berpeluang meningkatkan pendapatan perkapita pada 2030 di angka 16.618 asalkan syarat pertumbuhan terpenuhi.
Ringkang Gumiwang
Ringkang Gumiwang - Bisnis.com 09 April 2014  |  19:04 WIB
Pendapatan Perkapita Indonesia: Tahun 2030 Bisa Capai US$16.618, Ini Syaratnya
Ilustrasi/Gedung Bappenas
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bappenas, memperkirakan Indonesia masih berpeluang meningkatkan pendapatan perkapita pada 2030 di angka 16.618 asalkan syarat pertumbuhan terpenuhi.

Sebaliknya, jika rata-rata pertumbuhan ekonomi setiap tahun hanya 6%, pertumbuhan pendapatan perkapita Indonesia pada 2030 diperkirakan hanya US$8.531.

Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah mengatakan pendapatan perkapita Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara Asean lainnya. Menurutnya, Indonesia cuma unggul dari Vietnam, Myanmar dan Filipina.

“Dibandingkan Thailand atau Malasyia memang kita masih di bawah. Akan tetapi, kita jangan pesimistis, justru kita punya ruang untuk meningkat, yakni dengan cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 10% per tahun,” ujarnya, Rabu (09/04).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pendapatan perkapita Indonesia 2013 tercatat Rp36,5 juta atau tumbuh 9% dari tahun lalu Rp33,5 juta. Adapun, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun lalu sebesar 5,78%.

Bappenas menilai Indonesia memiliki kesempatan mencapai pendapatan perkapita US$16.618 pada 2030 mendatang, apabila pertumbuhan ekonomi tiap tahun mencapai 10%. Akan tetapi, pemerintah perlu memperhatikan terlebih dahulu produktivitas tenaga kerja.

Lukita menuturkan jalan terbaik meningkatkan produktivitas tenaga kerja adalah mendorong perkembangan industri pengolahan atau manufaktur. Artinya, tenaga kerja yang ada di sektor primer seperti pertanian maupun tambang harus mulai dikurangi.

Kendati demikian, pergeseran sektor industri pengolahan terhambat dari sisi pendidikan. Seperti diketahui, lebih dari 50% tenaga kerja Indonesia berpendidikan SD. Oleh karena itu, Lukita juga berpendapat sudah waktunya Indonesia menerapkan sekolah 12 tahun.

“Ini harus disiapkan dari sekarang. Tantangan pada masa mendatang cukup banyak, misalnya MEA, bonus demografi, Asean post 2015, hingga perubahan iklim. Ini kondisi yang tidak mungkin kita hindari. Oleh karena itu, kita harus prioritaskan ini,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bappenas pendapatan per kapita
Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top