Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menkeu Chatib Basri Optimistis Surplus Dagang Bakal Berlanjut

Pemerintah meyakini surplus neraca perdagangan sepanjang Oktober-November 2013 bakal berkelanjutan seiring dengan efek kebijakan moneter dan fiskal yang mulai bekerja mengerem impor.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 05 Januari 2014  |  18:07 WIB
Menkeu Chatib Basri - Bisnis.com
Menkeu Chatib Basri - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah meyakini surplus neraca perdagangan sepanjang Oktober-November 2013 bakal berkelanjutan seiring dengan efek kebijakan moneter dan fiskal yang mulai bekerja mengerem impor.

Menteri Keuangan M. Chatib Basri mengemukakan keberlanjutan surplus dagang akan lebih banyak dipengaruhi oleh penurunan impor ketimbang peningkatan ekspor dalam beberapa waktu ke depan.

Dampak penaikan suku bunga acuan 175 basis poin sepanjang 6 bulan terakhir akan mulai terlihat menekan investasi dan pada gilirannya menekan permintaan barang modal dari luar negeri pada paruh pertama 2014.

Penurunan impor akan semakin tinggi akibat kebijakan fiskal yang menaikkan pajak penghasilan impor (PPh pasal 22) yang berlaku efektif Januari 2014.

“Kelihatannya akan sustainable karena efeknya makin snowballing atau makin besar. Pertama, beberapa bulan setelah kenaikan interest rate, investasi ditunda, impor barang modal menurun. Kedua, efek dari beberapa kebijakan pemerintah, misalnya PPh pasal 22,” katanya, Minggu (5/1/2014).

Badan Pusat Statistik mencatat surplus dagang US$776,8 juta pada November, melanjutkan kinerja positif bulan sebelumnya yang sebesar US$24 juta.

Namun, surplus November lebih banyak dipengaruhi oleh penurunan impor 3,35% (month to month) ketimbang peningkatan ekspor yang hanya 1,45%.

Dari sisi ekspor, kata Chatib, tanda-tanda pemulihan ekonomi di Amerika Serikat yang memicu permintaan memang akan sedikit membantu kinerja perdagangan luar negeri Indonesia tahun ini.

Namun, Indonesia masih akan menghadapi tantangan jangka pendek penurunan ekspor kelompok barang tambang sekitar US$5 miliar per tahun sebagai konsekuensi pelarangan pengapalan mineral mentah yang tidak diiringi kesiapan industri hilir di dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan menkeu kebijakan fiskal kebijakan moneter
Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top