Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

4 Proyek Migas Molor, Produksi Minyak dan Gas Nasional Meleset

Negara berpotensi kehilangan produksi hingga 1.400 barel minyak per hari dan 90 juta standar kaki kubik gas per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd) akibat mundurnya jadwal operasi dan produksi empat proyek minyak dan gas bumi.
Lili Sunardi
Lili Sunardi - Bisnis.com 30 Desember 2013  |  22:35 WIB
4 Proyek Migas Molor, Produksi Minyak dan Gas Nasional Meleset
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Negara berpotensi kehilangan produksi hingga 1.400 barel minyak per hari dan 90 juta standar kaki kubik gas per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd) akibat mundurnya jadwal operasi dan produksi empat proyek minyak dan gas bumi.

Johannes Widjonarko, Pelaksana Tugas Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), mengatakan keempat proyek migas yang mundur adalah Blok Karang Agung yang dikembangkan PT Odira Energy Karang Agung, dan Lapangan Gundih yang dikembangkan Pertamina EP.

Selanjutnya, Blok Tarakan Offshore yang dikelola oleh Manhattan Kalimantan Investment Pte. Ltd, serta Proyek North Duri Development 13 yang dikembangkan Chevron Pacific Indonesia.

“Akibat kemunduran proyek itu, potensi produksi yang hilang mencapai 1.400 barel minyak per hari, dan 90 MMscfd yang setara dengan 16.000 barel setara minyak per hari,” katanya dalam laporan capaian kinerja SKK Migas 2013, di Jakarta, Senin (30/12/2013).

Hingga akhir tahun ini, produksi minyak hanya mencapai 826.000 barel per hari, sedangkan target dalam APBNP 2013 dipatok 840.000 barel per hari. Begitu juga dengan produksi gas tahun ini yang mencapai 6.981 juta british thermal unit (MMBtud), lebih rendah dibandingkan dengan target dalam APBNP 2013 mencapai 7.175 MMBtud.

Widjonarko menuturkan pihaknya akan lebih ketat mengawasi pelaksanaan proyek migas di dalam negeri, agar tidak ada lagi proyek yang terlambat berproduksi dan mempengaruhi lifting nasional.

Menurutnya, kehilangan potensi produksi terbesar disebabkan oleh laju penurunan produksi alamiah (decline rate) dari sejumlah lapangan migas yang sudah tua. Dengan decline rate rata-rata 4,1%, negara harus kehilangan potensi produksi hingga 35.000 barel minyak per hari.

SKK Migas sendiri sebenarnya berhasil menekan laju penurunan dari yang seharusnya 12%, menjadi sekitar 4,1%. Untuk menutupi penurunan produksi alamiah itu, SKK Migas harus memaksa kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) memproduksi 111.100 barel minyak per hari.

“Produksi 111.100 barel per hari untuk menutup decline rate kami peroleh setelah meminta KKKS melakukan pengeboran pengembangan, mengurangi frekuensi unplanned shutdown, percepatan produksi Lapangan South Mahakam, dan lainnya,” ujarnya.

Selain itu, unplanned shutdown yang terjadi selama 2013 juga menyebabkan negara kehilangan potensi produksi hingga 10.200 barel minyak per hari. Sepanjang tahun ini terdapat 1.600 kejadian yang menyebabkan unplanned shutdown, dimana 900 kejadian diantaranya terjadi pada fasilitas produksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas skk migas produksi minyak produksi gas
Editor : Nurbaiti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top