Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pengenaan PPnBM Bisa Picu Impor Ilegal

Bisnis.com, JAKARTA—Pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) pada ponsel pintar dinilai justru bisa memicu peningkatan praktek impor produk ilegal.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 12 September 2013  |  16:29 WIB
Pengenaan PPnBM Bisa Picu Impor Ilegal
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) pada ponsel pintar dinilai justru bisa memicu peningkatan praktek impor produk ilegal.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menilai kebijakan tersebut perlu dikaji ulang. Selama ini terdapat puluhan juta ponsel pintar ilegal yang beredar di masyarakat.

“Tadi sudah kami bahas di Kemenko [Kementerian Perekonomian] dan saya mengusulkan untuk dikaji ulang,” kata Gita seusai menghadiri rapat koordinasi di kantor Kementerian Keuangan, Kamis (12/9/2013).

Dia menjelaskan maraknya penyelundupan ponsel pintar ilegal dikarenakan adanya pengenaan pajak. Apabila pajak produk ini ditambah, maka berisiko menambah volume impor produk ilegal

Pihaknya berpendapat penerapan sistem International Mobile Equipment Identity (IMEI) lebih tepat untuk mengurangi impor ilegal tersebut. Namun, penerapan ini harus disertai dengan persiapan serta sosialisasi yang matang.

“Untuk mematikan ponsel yang ilegal menggunakan IMEI ini tidak bisa seketika karena tidak sedikit masyarakat yang mempunyai ponsel lebih dari dua. Perlu mempersiapkan adanya sosialisasi dan masa transisi,” ujarnya.

Kebijakan ini, lanjutnya, bertujuan untuk menekan impor ilegal guna mendorong pengembangan investasi dalam negeri. Selain itu, diharapkan pendapatan negara bisa meningkat agar masyarakat bisa mendapatkan manfaat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor gita wirjawan ponsel ilegal ppnbm
Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top