Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga BBM Naik, Moody's Sambut Positif

BISNIS.COM, JAKARTA--Lembaga pemeringkat internasional Moody's Investor Service menyambut positif kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM yang akan mendorong perubahan anggaran negara yang lebih sehat pada 2013.
Lavinda
Lavinda - Bisnis.com 24 Juni 2013  |  21:05 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--Lembaga pemeringkat internasional Moody's Investor Service menyambut positif kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM yang akan mendorong perubahan anggaran negara yang lebih sehat pada 2013.

Langkah ini dinilai akan memberikan dampak positif bagi peringkat utang Indonesia dan PT Pertamina (Persero) yang saat ini berada di posisi Baa3 dengan prospek stabil.

Sabtu pekan lalu, pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak subsidi jenis premium sebesar 44% dan solar 22%, setelah parlemen menyetujui perubahan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2013 pada 17 Juni 2013.

“Perbaikan jumlah subsidi memberi dampak positif terhadap peringkat utang luar negeri Indonesia karena belanja negara akan berkurang dan anggaran menjadi lebih sehat,” ujar Senior Analyst, Sovereign Risk Group Moody’s Christian de Guzman dalam keterangan yang dirilis Senin (24/6/2013).

Selain itu, perbaikan anggaran dianggap bisa mengendalikan defisit fiskal di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) sesuai dengan aturan hukum. Menteri Keuangan Chatib Basri pernah mengatakan tanpa reformasi anggaran subsidi energi, defisit fiskal bisa melampaui 3%.

Sebelumnya, subsidi energi pada 2012 mencapai 14,3% dari total anggaran belanja. Jumlah itu meningkat signifikan dari porsi anggaran 2009 yang hanya 4,8%, tahun setelah putaran terakhir dilakukannya revisi subsidi.

Alokasi subsidi energi meningkat menjadi Rp209,9 triliun dari sebelumnya Rp193,8 triliun dalam anggaran asli. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya realisasi pengeluaran untuk subsidi kemungkinan melebihi jumlah yang dianggarkan karena permintaan BBM yang tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi riil sebesar 6%.

Moody’s menilai pola belanja pemerintah akan mengimbangi kecenderungan pemberian subsidi sehingga target defisit hanya di kisaran 2,4% terhadap PDB.

Tak hanya peringkat utang Indonesia, kenaikan harga BBM juga membawa dampak positif terhadap rating perusahaan minyak dan gas milik negara Pertamina.

Christian menyampaikan penaikan peringkat utang disebabkan berkurangnya beban penjualan yang harus dibayar pemerintah. Pengurangan subsidi bisa meningkatkan modal kerja Pertamina, dan mengurangi potensi kerugian yang timbul karena terlambatnya dana penggantian subsidi dari pemerintah.

Kendati demikian, lanjutnya, persoalan lain akan muncul jika harga minyak mentah atau gas di atas asumsi 2013 atau melebihi US$100 per barel. Jika hal itu terjadi, Pertamina harus menalangi perbedaan harga dan berpotensi mengalami kerugian di bagian hilir bisnis.

Moody’s memperkirakan Pertamina akan menghemat US$3,6 miliar biaya subsidi 2013, yang akan menghemat modal kerja perusahaan. Dengan asumsi porsi pendapatan Pertamina seperti pada 2012, maka kebutuhan modal kerja perseroan akan menurun 8%-10% pada 2013 dan bisa menyusut mencapai 18%-20% pada 2014 ketika kenaikan harga BBM mulai diadaptasi dan membawa manfaat besar.

Semakin kecil jumlah subsidi akan mengurangi eksposur kerugian Pertamina di segmen hilir. Sebelumnya, Pertamina mengalami kerugian mencapai US$19 juta pada 2011 dan US$107 juta pada 2012 akibat rendahnya jumlah penggantian dana dari pemerintah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apbn bbm subsidi peringkat utang moody's investor service
Editor :

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top