Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI PENGOLAHAN: Sektor manufaktur hanya akan tumbuh 6,2% tahun depan

JAKARTA: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) memproyeksikan pertumbuhan industri pengolahan atau manufaktur hanya mampu mencapai 6,2% pada 2013 karena ditekan berbagai permasalahan yang memengaruhi sektor tersebut.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 11 Desember 2012  |  20:48 WIB

JAKARTA: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) memproyeksikan pertumbuhan industri pengolahan atau manufaktur hanya mampu mencapai 6,2% pada 2013 karena ditekan berbagai permasalahan yang memengaruhi sektor tersebut.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Industri, Riset, dan Teknologi, Bambang Sujagad, menuturkan sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja manufaktur tahun depan, mulai dari penaikan upah minimum provinsi (UMP), tarif tenaga listrik, harga gas, hingga ketersediaan bahan baku yang masih minim.

Menurutnya, pada awal tahun depan kalangan industri dinilai belum siap menghadapi sejumlah masalah yang dinilai sangat memberatkan pengusaha tersebut. Dengan demikian, kinerja industri diprediksi akan tertekan selama semester I 2013.

Akan tetapi, pihaknya optimistis kinerja industri manufaktur mulai membaik pada semester II tahun depan karena kalangan industri diprediksi sudah bisa beradaptasi dengan cobaan bertubi-tubi pada awal tahun.

“Kami optimistis perbaikan kinerja akan terjadi pada semester II tahun depan sehingga proyeksi 6,2% dengan plus-minus 0,2% itu kami nilai cukup realistis,” katanya kepada Bisnis, Selasa (11/12).

Pada tahun ini, Kadin memproyeksikan pertumbuhan industri pengolahan hanya mampu menyentuh 5,91%. Adapun Kementerian Perindustrian menargetkan industri manufaktur mampu mencapai 6,75% hingga akhir tahun.

Menurutnya, peringkat daya saing Indonesia dinilai rendah, tercermin dari kondisi kelembagaan birokrasi yang tidak produktif dan dinilai mengganggu dunia usaha.

“Kebijakan dan regulasi pemerintah seringkali tidak pasti sehingga mengganggu dunia usaha,” katanya.Dia mengemukakan tenaga kerja yang tidak efisien dan faktor ketidaksiapan teknologi juga mempengaruhi rendahnya daya saing itu.

“Tekanan dan tuntutan penaikan upah sangat kuat, tetapi tidak disertai efisiensi dan produktivitas tenaga kerja. Ini menyebabkan dunia usaha, terutama untuk sektor industri semakin tertekan pertumbuhannya,” ujarnya.

Kondisi infrastruktur dan layanan birokrasi yang buruk memengaruhi ongkos produksi dan perdagangan yang semakin mahal. (arh)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Herdiyan

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top