Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KOMITE EKONOMI NASIONAL: Perekonomian Indonesia belum efiisien

JAKARTA—Komite Ekonomi Nasional (KEN) Indonesia menilai perekonomian Indonesia masih belum efisien yang diindikasikan oleh tingginya tingkat Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
Nancy Junita - nonaktif
Nancy Junita - nonaktif - Bisnis.com 10 Desember 2012  |  20:38 WIB

JAKARTA—Komite Ekonomi Nasional (KEN) Indonesia menilai perekonomian Indonesia masih belum efisien yang diindikasikan oleh tingginya tingkat Incremental Capital Output Ratio (ICOR).

ICOR merupakan persentase kebutuhan investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di suatu negara untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi sebesar 1%. Perhitungan KEN memperlihatkan ICOR Indonesia tahun ini sebesar 5,2%.

Hal tersebut berarti setiap investasi sebesar 5,2% terhadap PDB akan menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 1%.

Purbaya Yudhi Sadewo, Anggota KEN, mengatakan semakin kecil ICOR suatu negara maka efisiensi ekonomi negara tersebut semakin baik. Indonesia yang termasuk emerging market, lanjutnya, seharusnya memiliki ICOR sebesar kurang lebih 4%.

Emerging market harusnya sih di 4% atau di bawah 4%, kalau China itu 4% atau lebih sedikit. Tetapi yang jelas kita ini beberapa tahun terakhir itu [ICOR] naik kencang,” katanya seusai acara Pemaparan Prospek Ekomomi Indonesia 2013, Senin (10/12/2012).

Menurutnya, inefisiensi perekonomian Indonesia terutama disebabkan karena infrastruktur Indonesia yang belum mendukung iklim investasi yang kondusif. Selain itu, kinerja birokrasi yang belum baik juga turut menyumbang tingginya biaya investasi di Indonesia.

“Akibatnya dibutuhkan lebih banyak capital [modal] untuk mengeluarkan output yang sama [untuk kontribusi 1% pertumbuhan ekonomi],” ujarnya.

Purbaya mengungkapkan pada tahun-tahun sebelumnya, biaya investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan 1% pertumbuhan ekonomi lebih rendah dibandingkan saat ini.

KEN menunjukkan ICOR Indonesia sebelum 2008 berada di bawah level 5%. Namun, semenjak 2009 sampai dengan tahun ini, ICOR Indonesia selalu di atas 5%, kecuali pada 2011 ICOR Indonesia berada di tingkat 4,9%.

“Kita lihat tren umumnya ada perburukan di efisiensi perkekonomian yang harus segera diperbaiki. Ini mesti diwaspadai ke depannya karena daya saing kita bisa kalah kalau tidak diperbaiki,” tegas Kepala Ekonom Danareksa ini.

Aviliani, Sekretaris KEN, mengatakan ICOR Indonesia yang lebih rendah pada tahun-tahun sebelumnya disebabkan karena pembangunan infrastruktur waktu itu lebih rendah daripada saat ini. “Sekarang ini kan [pembangunan infrastruktur] baru mau kita pacu dengan MP3EI,” katanya.

Namun, tingginya percepatan investasi infrastruktur itu memang masih menemui berbagai kendala sehingga belum bisa menurunkan tingkat ICOR Indonesia. “Yang penting itu [pergerakan ICOR] jangan bergejolak,” katanya.

Lebih lanjut, Purbaya mengatakan pemerintah perlu segera merealisasikan rencana-rencana pembangunan infrastruktur yang saat ini banyak tertunda.

“Birokrasi juga dibereskan agar bisnis gampang melakukan ekspansi sehingga tidak besar-besar amat modalnya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi. Harus ada kemudahan melakukan bisnis,” pungkasnya. (msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Hedwi Prihatmoko

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top