DEFISIT PERDAGANGAN: Impor Pesawat Hanya Kecil Pengaruhnya

JAKARTA: Impor pesawat hanya berpengaruh kecil terhadap defisit neraca perdagangan jika dinilai secara menyeluruh.Heriyanto Irawan, Ekonom Deutsche Bank, mengatakan secara parsial kenaikan impor pesawat memang terlihat besar, tetapi nilai tersebut masih
Nancy Junita - nonaktif
Nancy Junita - nonaktif - Bisnis.com 05 Desember 2012  |  19:31 WIB

JAKARTA: Impor pesawat hanya berpengaruh kecil terhadap defisit neraca perdagangan jika dinilai secara menyeluruh.Heriyanto Irawan, Ekonom Deutsche Bank, mengatakan secara parsial kenaikan impor pesawat memang terlihat besar, tetapi nilai tersebut masih cukup kecil jika dilihat dari peranannya terhadap keseluruhan impor.“Jauh lebih besar [impor] barang modal yang [senilai] US$40 miliar, ini hitungan kasarnya. Kalau pesawat terbang itu hanya [senilai] US$3,5 miliar selama Januari samapi Oktober,” ungkapnya dalam acara Diskusi tentang Sasaran Ekonomi terkait Iklim Investasi di Indonesia, Rabu (5/12/2012).Oleh karena itu, imbuhnya, kenaikan impor pesawat terbang yang cukup tinggi tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap defisit neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.Badan Pusat Statistik mencatatkan kenaikan impor pesawat terbang dan bagiannya sepanjang Januari sampai Oktober 2012 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebagai kenaikan yang tertinggi.Selama Januari sampai Oktober 2012, kenaikan impor pesawat terbang dan bagiannya mencapai 41,39% jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, kontribusi yang diberikan hanya sebesar 2,86% atau sebesar Rp3,56 miliar dari total keseluruhan ekspor nonmigas yang sebesar Rp124,39 miliar.Sementara itu, kontribusi barang modal terhadap impor masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 31,85% atau sebesar US$39,62 miliar terhadap total keseluruhan impor nonmigas.Heriyanto mengungkapkan tingginya impor yang ikut menyumbang terjadinya defisit transaksi berjalan merupakan fenomena yang tidak perlu dikhawatirkan. Menurutnya, defisit transaksi berjalan yang saat ini berlangsung merupakan implikasi yang wajar atas tingginya arus investasi yang masuk ke Indonesia.“Itu [defisit transaksi berjalan yang terjadi] karena ada banyak perusahaan yang berinvestasi dan membutuhkan [impor] barang modal,” ujarnya.Dia mengatakan pada masa krisis 1998, arus impor tergolong rendah dan transaksi berjalan Indonesia mengalami surplus. Namun, tambahnya, kondisi tersebut juga memperlihatkan kemerosotan arus investasi yang masuk ke Indonesia. (bas) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Aang Ananda Suherman

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top