Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HARGA GAS: PGN & asosiasi negosiasi

JAKARTA: Kementerian Perindustrian akan memfasilitasi negosiasi harga gas antara asosiasi industri dengan PT. Perusahaan Gas Negara (PGN).
- Bisnis.com 21 Mei 2012  |  15:19 WIB

JAKARTA: Kementerian Perindustrian akan memfasilitasi negosiasi harga gas antara asosiasi industri dengan PT. Perusahaan Gas Negara (PGN).

 

Panggah Susanto, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur, menuturkan dalam pertemuan dengan pelaku industri dan PGN pada Rabu, pekan lalu, mengemuka keluhan pengusaha terkait kenaikan harga gas yang dianggap terlalu tinggi dan mendadak. 

Sementara itu, PGN berdalih kenaikan dilakukan menyesuaikan dengan tingginya harga gas di tingkat hulu, yang ditetapkan oleh BP Migas. 

"Kalaupun harga gas dinaikkan belum tentu juga ada jaminan pasokan. Ini menjadi persoalan," jelasnya usai pelantikan pejabat eselon III Kemenperin, Senin 21 Mei 2012.Karenanya, lanjut Panggah, kejutan harga gas ini membuat pelaku industri tidak siap menghadapi kenaikan ongkos produksi. 

"Karenanya mereka minta ke kami agar memfasilitasi untuk membuka lagi kemungkinan adanya negosiasi harga dari harga yang ditetapkan sekarang," katanya. 

"Jadi [kami ingin] dibuka pintu negoisiasi dengan PGN mau dengan BP Migas karena memang sumbernya dari sana biar semua bisa hidup." 

Menurutnya, kenaikan harga gas menjadi US$10,13 MMBTu terlalu tinggi dan perlu dikaji kembali. Kebijakan PGN tersebut juga bertolak belakang dengan tren penurunan harga gas di sejumlah negara, a.l. Amerika Serikat. 

"Saya kira jadi makin berat ya sektor industri, ada yang mencapai 30% kenaikan strutur biayanya. Pasti ada dampaknya ke kira-kira 19 sektor yang memanfaatkan energi gas ini," katanya. 

Kementerian Perindustrian, tambah Panggah, akan menjadikan pasokan gas sebagai pendorong daya saing industri nasional dalam jangka panjang mengingat Indonesia produsen gas terbesar di Asean. 

"Kalau itu tidak jadi faktor pendorong utama, tentu kalah kita. Karena faktor-faktor lainnya sudha kalah kita, seperti infrastruktur, pelabuhan, dan sebagainya," tandasnya.(msb)

 

BERITA FINANSIAL PILIHAN REDAKSI:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Agust Supriadi

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top