Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BIAYA LOGISTIK TINGGI: Bank Dunia usulkan efisiensi dwell time di Indonesia

JAKARTA: Bank Dunia merekomendasikan dua langkah guna efisiensi logistik di Indonesia yakni perlunya penurunan waktu pengendapan atau penumpukan peti kemas (dwell time) dan pengembangan kawasan pelabuhan darat (dry port). Senior Trade Economist
Hery Trianto
Hery Trianto - Bisnis.com 08 Mei 2012  |  16:07 WIB

JAKARTA: Bank Dunia merekomendasikan dua langkah guna efisiensi logistik di Indonesia yakni perlunya penurunan waktu pengendapan atau penumpukan peti kemas (dwell time) dan pengembangan kawasan pelabuhan darat (dry port). Senior Trade Economist World Bank Henry Sandee mengatakan waktu pengendapan rata--rata peti kemas impor atau sering disebut dwell time di Jakarta International Container Terminal (JICT) terus meningkat.Sepanjang tahun lalu, pelabuhan Tanjung Priok menangani 1 juta kontainer dengan dwell time meningkat dari 4,8 hari menjadi 6,7 hari. Dia mengatakan pihaknya kini juga sudah bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung guna memantau perkembangan tingkat dwell time setiap 3 bulan sekali.“Isu utamanya untuk meningkatkan efisiensi logistic adalah dengan kurangi dwell time dan kembangkan dry port, tentu ini harus dibarengi dengan koordinasi,” katanya usai International Logistics Seminar & Workshop 2012 di Jakarta, hari ini.Dalam acara yang digelar oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sandee juga menegaskan perlu pengembangan dry port guna meningkatkan efisiensi logistik sambil menunggu pembangunan dan operasional dari terminal peti kemas Kalibaru atau Tanjung Priok New Port.“Saat ini kan Cikarang Dry Port, mari bandingkan dengan Bangkok Dry Port—Lat Krabang, mereka sudah dioptimalkan, semestinya di Indonesia juga bisa. Kami perkirakan kan memang 62% kontainer itu dari dan ke arah Cikarang,” katanya.Dalam hal penurunan dwell time, katanya, perlu ada koordinasi dari bea dan cukai, Kementerian Perhubungan, otoritas pelabuhan, bank, perusahaan freight forwarder (jasa pengiriman ekspor—impor), maskapai pelayaran, dan lainnya.Adapun untuk pengembangan dry port koordinasi di antaranya oleh Kementerian Perhubungan, otoritas pelabuhan, perusahaan trucking, Kementerian Pekerjaan Umum, dan lainnya. “Koordinasi adalah kunci menurunkan biaya logistic, implementasi semua itu mesti dibutuhkan koordinasi yang kuat,” tegasnya.Selain itu Sandee juga menegaskan Indonesia perlu belajar dari negara tetangga soal logistik tidak hanya Singapura melainkan Malaysia dan Thailand yang cukup baik dalam menekan biaya logistik.Dia membandingkan biaya logistik (transportasi, handling, bea cukai) antara Cikarang ke Tanjung Priok dengan jarak 55,4 kilometer mencapai US$750, sedangkan di Malaysia antara Pasir Gudang menuju Tanjung Pelepas dengan jarak 56,4 kilometer lebih murah, US$450.“Bayangkan, di supermarket, jeruk Pontianak lebih mahal dari Jeruk China, bahkan lebih murah mengirim barang dari Jakarta ke Rotterdam dibandingkan dengan dari Jakarta ke Jayapura, Ini karena ketidakpastian kapan barang bisa tiba,” katanya. Biaya logistik tertinggiDalam kesempatan tersebut, Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan statistik terakhir menunjukan biaya logistik di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asean yakni sebesar 25%--30% dari produk domestik bruto.Semestinya, katanya, dengan kondisi geografis Indonesia, idealnya biaya logistik itu tidak melebihi 15% dari PDB.“Sistem logistik kita belum efisien menyebabkan kesenjangan harga antara wilayah Timur dan Barat Indonesia. Ini juga menyebabkan komoditas impor lebih murah daripada produk lokal,” katanya.Lukman mengatakan sistem logistik nasional yang masih kurang baik terlihat dari biaya pengiriman yang tinggi. Distribusi barang antar wilayah maupun antar pulau menjadi tantangan tersendiri karena harga barang di luar Pulau Jawa lebih tinggi. “Misalkan harga beras di provinsi bisa sampai 64% lebih tinggi ketimbang provinsi lain. Ada pula harga satu kantong semen di wilayah Papua 20 kali lipat dari di Jawa,” tegasnya. Didi Sumedi, Direktur Logistik dan Sarana Distribusi, Didi Sumedi, dalam makalahnya mengungkapkan biaya logistik nasional diperkirakan mencapai Rp1.402 triliun artinya level tersebut 26% dari total produk domestik bruto (PDB) Rp5.394 triliun pada 2010.Besaran biaya logistik tersebut terdiri dari biaya pengelolaan persediaan (inventory carrying cost) Rp421 triliun, biaya transportasi Rp841 triliun, dan biaya administrasi Rp140 triliun. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top