PREDIKSI INFLASI: Versi Bank Mandiri, inflasi April capai 0,2%

 
Diena Lestari | 30 April 2012 19:52 WIB

 

JAKARTA: Laju inflasi April 2012 diperkirakan mencapai 0,2%, sehingga dibandingkan April 2011 terbentuk inflasi 4,49% (year on year).

 

Destry Damayanti, Kepala Ekonom Bank Mandiri, mengatakan inflasi April diproyeksikan mencapai 0,2%. Maka Januari-April 2012 terjadi inflasi 1,08%.

 

Inflasi inti pada April 2012 dibandingkan pada inflasi inti periode yang sama tahun sebelumnya, diproyeksikan mencapai 4,23% atau lebih rendah dari inflasi umum yang mencapai 4,49% (yoy).

 

"Overall inflasi, biasanya memang deflasi karena panen. Kalau kita lihat April ini, beras sih deflasi, tapi beberapa makanan yang lain cenderung naik, seperti cabai yang harganya masih tinggi," kata Destry kepada Bisnis, Senin 30 April 2012.

 

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, dalam 5 tahun terakhir terjadi variasi laju inflasi pada April. Tren deflasi terjadi pada April 2007, 2009, dan 2011, yakni berturut-turut -0,16%, -0,31%, dan -0,31%.

 

Sementara itu pada April 2008 dan 2010 terjadi inflasi 0,57% dan 0,15%.

 

Destry memproyeksikan pada tahun ini, tingkat inflasi terendah terjadi pada Maret lalu, yakni 3,97% (yoy), sedangkan inflasi April--Desember 2012 kemungkinan berada di tingkat sekitar 4% (yoy).

 

"Menurut kami, bottom inflasi itu Maret kemarin. April ke depan cenderung naik di atas 4%, susah lagi di sekitar 3%. Maka, tanpa kenaikan harga BBM, kami proyeksikan inflasi sampai akhirtahun 5%-6%," tuturnya.

 

Selain itu, pelemahan rupiah juga dinilai Destry sebagai faktor penekan inflasi dari komponen impor yang cenderung bergerak naik. Menurutnya, faktor yang juga tidak bisa dipungkiri adalah ekspektasi inflasi dari rencana pembatasan ataupun kenaikan harga BBM.

 

"Adaya pembatasan konsumsi BBM memang menciptakan ekspektasi inflasi yang meningkat dalam jangka pendek. Tapi bisa dikendalikan asalkan ada kejelasan terkait kapan dan melalui mekanisme kebijakan seperti apa penghematan konsumsi BBM dilakukan pemerintah," kata Destry.

 

Kalau ada kebijakan yang jelas, kata Destry, implikasi atas kebijakan tersebut bisa langsung dihitung, sehingga ekspektasi inflasi yang bergerak liar dapat dihindari.

 

Meski agak sulit dikendalikan, kata Destry, pemantauan harga komoditi pokok, seperti beras, gula, telur, dan kebutuhan dasar masyarakat lainnya, dapat meredam kenaikan harga yang signifikan.

 

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana mengatakan dengan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi akan terjadi sedikit kenaikan inflasi tahunan.

 

Kontribusinya, kata Armida, sekitar 0,3%-0,5%, tidak sebesar opsi kenaikan harga BBM yang bisa memicu tambahan inflasi lebih dari 2%. "Kalau pembatasan tentu ada sedikit kenaikan inflasi, tidak sebesar kalau harga naik. Angkanya sekitar 0,3%-0,5%."

 

Sebelumnya, Armida memproyeksikan terjadi deflasi pada April sebagaimana tren inflasi yang biasa terjadi di Indonesia.

 

Menurutnya, untuk mengendalikan inflasi, pemerintah melakukan pendekatan mengamankan supply and demand, yang dipantau oleh Bulog untuk komoditas beras, dan kementerian perdagangan untuk komoditas lainnya.

 

"Kalau pasokan, dari dalam negeri kita bicara produksi. Juga praktisnya, ada operasi pasar murah dari Bulog dan BUMN," ujarnya. (ea) 

 

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top