HARGA GULAPenetapan harga pokok dinilai lamban

 
Febriany Dian Aritya Putri | 23 April 2012 20:14 WIB

 

JAKARTA: Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia menyesalkan lambannya pemerintah memutuskan harga pokok penjualan gula padahal musim giling sudah dimulai awal bulan depan.
 
Wakil Sekjen Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Nur Khabsyin meminta agar Kementerian Perdagangan mengakomodir usulan HPP gula sebesar Rp9.218 per kilogram, dari saat ini Rp7.000 per kilogram.
 
“Musim giling tebu di Jawa mulai pada Mei. Ada sebagian pabrik gula menggiling pada awal Mei, bahkan Sugar Group sudah mengawali giling pada 1 April lalu. Petani tebu sangat menunggu HPP gula tani karena itu merupakan jaminan pendapatan,” katanya hari ini.
 
Dia menuturkan APTRI telah mengusulkan HPP gula itu pada Februari lalu ke Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
 
Usulan tersebut didapat melalui perhitungan produksi tebu 1.100 kwintal per hektar dengan rendemen 7,2% untuk jenis tanaman tebu pertama akan menghasilkan HPP sebesar Rp9.496 per kilogram.
 
Sementara itu, untuk tanaman kedua, ketiga, dan seterusnya, dengan produksi 900 kwintal per hektar dan rendemen 6,8% akan menghasilkan HPP mencapai 8.941 per kilogram.
 
“Jadi, rata-rata HPP gula itu adalah Rp9.218 per kilogram, sudah memperhitungkan keuntungan petani 10%,” jelas Khabsyin.
 
Kendati demikian, Dewan Gula Indonesia mengusulkan HPP gula sebesar Rp8.750 per kilogram, berbeda pendapat dengan APTRI.
 
Menteri Pertanian Suswono mengatakan usulan tersebut dari hasil survei tim independen berkaitan dengan biaya pokok produksi (BPP) gula pada tahun ini.
 
“Keputusan Litbang Pertanian [Badan Penelitian dan Pengembangan Kementan]. Faktor yang menjadi pertimbangan itu antara lain faktor inflasi, bunga bank, perbandingan dengan harga gula eks impor, harga eceran, dan keuntungan petani,” jelas mentan.
 
Khabsyin mengatakan usulan HPP sebesar Rp9.218 per kilogram tidak tinggi, dan hanya mengharapkan keuntungan petani sebesar 10% per tahun.
 
“Petani tebu tidak meminta HPP yang tinggi, tetapi angka Rp9.218 per kilogram cukup wajar karena pabrik gula hanya memberikan rendemen 7,2% karena pabrik sudah tua. Kalau rendemen bisa mencapai rata-rata8,5%, besaran HPP bisa di bawah itu. Saat ini, eceran gula cukup tinggi yaitu kisaran Rp11.100-Rp11.400 per kilogram,” kata Khabsyin.
 
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krishnamurti menjanjikan HPP gula akan diterbitkan sebelum masa giling tiba.
 
Dia menuturkan pihaknya masih membahas secara detil mengenai HPP gula tersebut dengan berbagai pihak.
 
“HPP gula memang belum, masih kami bahas sampai sekarang. Tapi, nanti sebelum masa giling sudah diterbitkan,” katanya. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top